El Nino Picu Kekeringan, Kelestarian Hutan Jadi Kunci Krisis Air

  • 14 Agt 2026 10:07 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino mulai memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah. Salah satu dampak yang paling dirasakan adalah meningkatnya risiko kekeringan serta keterbatasan ketersediaan air bersih.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sumber air di sejumlah daerah mengalami penurunan selama musim kemarau. Masyarakat yang bergantung pada sumber air alami turut menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari maupun untuk aktivitas pertanian.

Penggiat lingkungan, Wiyatmoko, mengatakan kemarau panjang yang terjadi di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, memberikan dampak cukup besar terhadap kehidupan manusia.

“Musim kemarau panjang akibat El Nino yang melanda dunia, termasuk Indonesia, membawa dampak bagi manusia. Salah satunya adalah kekeringan dan krisis air bersih,” kata Wiyatmoko, Kamis (13/8/2026).

Menurut Wiyatmoko, persoalan krisis air tidak hanya dipengaruhi kondisi cuaca. Faktor lingkungan, khususnya kondisi kawasan hutan dan daerah resapan air, juga memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan sumber air.

Ia menjelaskan, kerusakan alam dan hutan dapat mengurangi kemampuan lingkungan dalam menyimpan cadangan air. Padahal, kawasan hutan memiliki fungsi strategis dalam menjaga keseimbangan tata air sekaligus membantu mempertahankan ketersediaan air bagi masyarakat.

“Selain faktor cuaca, krisis air juga dipengaruhi oleh kerusakan alam atau hutan yang memiliki fungsi strategis sebagai penyimpan cadangan air,” ujarnya.

Karena itu, Wiyatmoko mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lingkungan sebagai upaya jangka panjang menghadapi ancaman kekeringan dan krisis air bersih.

Menurutnya, upaya menjaga sumber air tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat. Perlindungan kawasan hutan, menjaga daerah resapan air, serta mencegah kerusakan lingkungan menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan air.

Ancaman kekeringan juga berpotensi berdampak pada sektor pertanian. Berkurangnya ketersediaan air dapat menyulitkan petani dalam mengolah lahan dan memenuhi kebutuhan air tanaman, terutama apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

Wiyatmoko berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan terus ditingkatkan. Kelestarian hutan dan sumber air dinilai menjadi investasi penting agar masyarakat tetap memiliki cadangan air saat menghadapi musim kemarau panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....