El Niño Super Ancam Buol, Warga Diminta Waspada
- 11 Agt 2026 10:04 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Buol – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman fenomena iklim ekstrim El Niño Super.
Fenomena tersebut diperkirakan menjadi salah satu El Niño terkuat dalam catatan sejarah dan berpotensi berdampak di seluruh wilayah Kabupaten Buol. Kondisi ini ditandai dengan penurunan curah hujan secara signifikan yang berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
BMKG menyebutkan, sebagai fenomena iklim global, dampak El Niño diperkirakan dirasakan di seluruh 11 kecamatan di Kabupaten Buol. Masyarakat diminta mengantisipasi berbagai dampak yang dapat muncul selama periode tersebut.
Kondisi kemarau yang diperkuat El Niño juga berpotensi meningkatkan suhu harian sehingga cuaca terasa lebih panas dan menyengat. Di sisi lain, berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan pasokan air bersih menurun, disertai menyusutnya debit sungai dan sumber air baku masyarakat.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang berisiko terdampak. Kekeringan lahan dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan berpotensi menurunkan hasil panen, terutama bagi petani yang bergantung pada ketersediaan air dari sumber alami.
Tidak hanya itu, kondisi tanah dan vegetasi yang semakin kering juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Risiko tersebut dinilai perlu diantisipasi bersama, terutama dengan menghindari aktivitas pembakaran di area terbuka.
Prakirawan Cuaca BMKG Tolitoli, Millenia Arifah, mengatakan puncak fenomena El Niño diprediksi terjadi pada September 2026. Kondisi tersebut bahkan diperkirakan masih berlangsung hingga awal tahun berikutnya.
“Fenomena El Niño ini masih akan berlangsung hingga awal tahun. Ketika masuk pergantian musim ke musim hujan, curah hujannya diprediksi tidak sebanyak musim hujan pada umumnya,” ungkap Millenia Arifah, Senin (10/8/2026).
Menghadapi ancaman krisis air dan suhu ekstrem, BMKG mengimbau petani mempertimbangkan komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering dan minim air. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko gagal panen selama periode kekeringan.
Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air bersih dan menyiapkan penampungan air sebagai cadangan. Pengelolaan air secara bijak diperlukan untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi selama pasokan air berkurang.
Selain itu, warga diingatkan tidak melakukan pembakaran hutan, lahan maupun sampah secara sembarangan. Lingkungan yang kering membuat api lebih mudah menyebar dan meningkatkan risiko terjadinya Karhutla.
BMKG juga mengingatkan masyarakat menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas dengan mencukupi kebutuhan cairan dan menggunakan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan. Perkembangan kondisi cuaca juga perlu dipantau secara berkala melalui aplikasi InfoBMKG maupun kanal resmi media sosial BMKG.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....