Guru Besar Untad Desak penerapan Reward and Punishment Bernegara

  • 02 Jun 2026 17:49 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Akademisi dari Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nur Sangadji, menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam penerapan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda saat ini bukanlah kemajuan teknologi, melainkan krisis keteladanan dari orang dewasa. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber via Zoom dalam dialog "Tolitoli Menyapa" yang digelar RRI Tolitoli bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, Senin, 1 Juni 2026.

Menurut Prof. Nur Sangadji, perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi di era digital merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari maupun disalahkan. Oleh karena itu, kunci utama agar generasi muda bangga terhadap ideologi Pancasila berada pada perilaku nyata orang dewasa di sekitar mereka, termasuk pemerintah, guru, dan orang tua.

"Anak-anak akan selalu mengikuti apa yang diucapkan atau dilakukan oleh orang dewasa (the kid always follow what the adult say or doing). Sangat mubazir dan omong kosong jika kita menganjurkan berbagai doktrinitas ideologi kepada generasi muda, sementara mereka menyaksikan fakta yang terbalik dan ketiadaan keteladanan di ruang publik," ujar Nur Sangadji.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya edukasi dari aspek historis dan filosofis agar generasi muda memahami bahwa Pancasila dilahirkan melalui proses perjuangan yang panjang oleh para pendiri bangsa, bukan sekadar ideologi kosong. Ia juga membandingkan ideologi Indonesia dengan falsafah Prancis (liberte, egalite, fraternity). Menurutnya, Pancasila jauh lebih unggul karena menempatkan Tuhan sebagai sandaran utama pada sila pertama.

Namun, ia menyayangkan realitas sosial di lapangan, di mana hubungan kemanusiaan dan keadilan sosial justru seringkali terlihat pudar akibat ulah segelintir oknum pejabat yang merusak citra pemerintah dan memicu kebencian rakyat. Untuk mengatasi hal ini, Nur Sangadji mendesak diterapkannya sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment) yang tegas di dalam kehidupan bernegara.

Sebagai penutup, guru besar Untad ini mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi dalam mendukung kebaikan dan melawan kejahatan demi menyelamatkan karakter bangsa. "Jika harta benda hilang, tidak ada yang hilang. Jika kesehatan hilang, ada sedikit yang hilang. Tetapi jika karakter yang hilang, maka sesungguhnya kita telah kehilangan segala-galanya," ujarnya, mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....