RDP DPRD Tolitoli Bahas Serapan Gabah Petani oleh Bulog
- 20 Apr 2026 22:04 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli - Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPRD Kabupaten Tolitoli dan Pimpinan Cabang Bulog Tolitoli digelar pada Senin, 20 April 2026 guna menindaklanjuti keluhan petani terkait rendahnya serapan gabah dan beras oleh Bulog. Pertemuan ini menjadi forum strategis untuk mencari solusi agar hasil panen petani lokal dapat terserap secara optimal.
Dalam rapat tersebut, DPRD menyoroti pentingnya peran Bulog sebagai lembaga penyangga pangan yang bertugas menjaga stabilitas harga sekaligus menyerap produksi petani. Permasalahan utama yang diangkat adalah masih minimnya penyerapan beras petani Tolitoli, yang dinilai belum sebanding dengan potensi produksi daerah.
Berdasarkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Tolitoli Tahun 2025, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura mencatat luas tanam pada musim tanam 2025/2026 mencapai 14.130 hektare. Luasan tersebut terbagi atas musim tanam Oktober–Maret (Okmar) seluas 7.230 hektare dan April–September (Asep) seluas 6.900 hektare.
Dengan produktivitas rata-rata 4 hingga 5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar atau setara 2,1 ton beras, total produksi beras di Tolitoli diperkirakan mencapai sekitar 29.673 ton. Angka ini menunjukkan potensi besar yang perlu diimbangi dengan kebijakan penyerapan yang maksimal.
Namun demikian, pada tahun 2026 Bulog Cabang Tolitoli hanya mendapatkan alokasi pengadaan sebesar 764 ton beras dari petani. Sementara itu, cadangan beras pemerintah (CBP) yang tersimpan di gudang Bulog mencapai 3.500 ton, yang sebagian besar belum sepenuhnya berasal dari produksi lokal.
Anggota DPRD Tolitoli, Jemi Yusuf, dalam rapat tersebut menyampaikan perlunya strategi konkret untuk meningkatkan serapan beras petani. “Kami mendorong agar serapan Bulog bisa ditingkatkan dari 2 persen menjadi minimal 12 persen melalui mekanisme buffer stock sebagai cadangan beras pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut tidak hanya akan memperkuat cadangan pangan daerah, tetapi juga memberikan kepastian harga bagi petani. “Dengan optimalisasi buffer stock, Bulog dapat lebih banyak menyerap hasil panen petani Tolitoli, sehingga kesejahteraan petani ikut meningkat,” katanya.
Upaya ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani serta Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Selain itu, Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 juga menegaskan pentingnya pengadaan dan pengelolaan gabah/beras dalam negeri serta penyaluran cadangan beras pemerintah secara tepat sasaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....