Psikiater Ungkap Cara Sehat Mengekspresikan Kemarahan dan Emosi

  • 18 Sep 2026 14:43 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ mengajak masyarakat untuk lebih mengenali kondisi emosi dan pikiran melalui mindfulness serta refleksi diri secara rutin.

Hal tersebut disampaikan Andreas dalam Podcast Suara Berkelas bersama host Bilal Faranov, episode ke-220 bertajuk “Kaitan Antara Kamar Berantakan, Overthinking, Kehilangan & Kesepian!”

Andreas menjelaskan, melakukan pemeriksaan terhadap kondisi diri atau check in with yourself dapat membantu seseorang memahami apa yang sedang dirasakan sekaligus melatih kesadaran dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Ia menyarankan refleksi sederhana dilakukan setidaknya pada malam hari sebelum tidur dengan mengingat kembali aktivitas sejak bangun hingga menjelang tidur, termasuk berbagai perasaan yang muncul sepanjang hari.

“Kita jarang melakukan seperti itu. Step yang awal bisa kita lakukan adalah untuk check in with yourself. Sering-sering. Sesering apa, biasanya sih ku sarankan minimal malam hari sebelum tidur coba deh kayak nge-review diri sendiri,” ujar Andreas.

Menurutnya, refleksi diri tidak harus selalu berujung pada upaya mencari hal-hal positif. Seseorang juga perlu mengakui ketika dirinya sedang merasa tidak baik-baik saja.

Andreas mengatakan, journaling maupun refleksi diri bukan berarti memaksakan diri untuk selalu berpikir positif. Sebab, ada kalanya seseorang memang mengalami hari yang berat dan membutuhkan ruang untuk menyadari serta menerima perasaan tersebut.

Selain mindfulness dan refleksi diri, Andreas juga menekankan pentingnya mengekspresikan kemarahan secara asertif dan sehat. Kemarahan perlu disampaikan dengan menjelaskan fakta dan perasaan secara jelas tanpa melakukan tindakan agresif maupun pasif-agresif.

Menurutnya, olahraga, bernyanyi, maupun menulis dapat menjadi alternatif untuk menyalurkan emosi secara sehat sehingga tekanan tidak terus menumpuk.

Andreas juga mengingatkan risiko terlalu lama menyimpan emosi dengan menggunakan “topeng sabar”. Menahan keluhan dan perasaan negatif secara terus-menerus tanpa mengekspresikannya dengan cara yang sehat dapat membuat emosi menumpuk dan berpotensi memicu ledakan emosi yang sulit dikendalikan.

Karena itu, kemampuan mengenali batas diri dan mengetahui kapan perlu berhenti menutupi perasaan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan psikologis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....