Psikolog Ungkap Penyebab Lelah Kerja hingga Hilang Jati Diri

  • 17 Sep 2026 14:03 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Rasa lelah yang terus muncul dalam menjalani pekerjaan tidak selalu disebabkan oleh beban kerja. Ekspektasi dari keluarga dan lingkungan sekitar juga dapat menjadi salah satu pemicu burnout yang dialami seseorang.

Hal tersebut disampaikan Psikolog Klinis Analisa Widyaningrum dalam Podcast Suara Berkelas bersama host Bilal Faranov, episode ke-209 topik “Psikolog: Alasan Kamu Selalu Lelah Dengan Pekerjaanmu dan Hilang Jati Diri.”

Analisa Widyaningrum yang juga merupakan ibu rumah tangga, trainer, konsultan perusahaan, dan konten kreator menjelaskan, masyarakat Indonesia cenderung hidup dengan berbagai ekspektasi yang diberikan sejak usia dini.

Menurutnya, tekanan tersebut dapat membuat seseorang terbiasa mencari validasi dari lingkungan dan membandingkan dirinya dengan orang lain. Kondisi itu dinilai semakin terasa ketika memasuki usia 20 hingga 30 tahun, saat seseorang menghadapi berbagai tuntutan kehidupan.

“Burnout-nya adalah ekspektasi dari lingkungannya, orang tua, keluarga. Jadi, orang Indonesia itu penuh dengan ekspektasi, sehingga burnout-nya dia itu bukan karena pekerjaan, bukan karena kuliah, tapi karena ekspektasi yang dikasih sama lingkungannya,” ujar Analisa.

Ia menjelaskan, burnout berbeda dengan stres biasa. Burnout merupakan kondisi stres kronis yang tidak tertangani sehingga dapat membuat seseorang mengalami kelelahan berkepanjangan dan kehilangan efikasi diri atau kepercayaan terhadap kemampuan dirinya.

Analisa juga menyoroti masalah finansial sebagai salah satu keluhan yang banyak dihadapi pekerja. Tekanan ekonomi, termasuk persoalan pinjaman online dan keuangan rumah tangga, dapat menjadi sumber stres yang semakin memperburuk kondisi seseorang.

Selain lingkungan kerja, tekanan juga dapat terbentuk sejak seseorang berada di bangku sekolah. Standar prestasi seperti peringkat, nilai, dan tuntutan untuk memenuhi ekspektasi orang tua dapat membuat anak terbiasa mengukur keberhasilan berdasarkan penilaian dari luar dirinya.

Menurut Analisa, diperlukan perubahan dalam pola pendidikan dan pengasuhan agar anak tidak tumbuh dengan tekanan ekspektasi yang berlebihan. Anak perlu diberikan ruang untuk mengenali potensi, minat, dan kemampuannya sehingga dapat berkembang tanpa terus-menerus mengejar standar yang ditetapkan lingkungan.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengambil tanggung jawab pribadi dalam proses pemulihan diri. Kesadaran untuk mengenali kondisi diri dan melakukan perubahan menjadi bagian penting agar seseorang dapat kembali membangun kepercayaan diri serta menemukan jati dirinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....