Doomscrolling, Kebiasaan Menggulir Konten Negatif yang Perlu Dikendalikan

  • 28 Agt 2026 12:23 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Kebiasaan doomscrolling membuat pengguna terus menggulir konten negatif meski informasi itu memicu rasa tidak nyaman. Fenomena ini mendapat perhatian dalam penelitian psikologi karena berkaitan dengan penggunaan media sosial dan kesejahteraan.

Doomscrolling merujuk pada kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus melalui media sosial atau platform berita. Pengguna biasanya merasa sulit berhenti meski konten yang dibaca dapat menimbulkan tekanan emosional.

Penelitian yang diterbitkan pada 2026 menguji skala pengukuran doomscrolling terhadap 585 orang dewasa. Hasil penelitian menunjukkan perilaku tersebut berkaitan dengan penggunaan telepon pintar dan media sosial yang lebih tinggi, fear of missing out atau FOMO, serta tingkat tekanan psikologis.

Penelitian sebelumnya juga menemukan hubungan antara doomscrolling dan kesejahteraan psikologis. Studi tersebut menunjukkan bahwa doomscrolling berkaitan dengan tekanan psikologis dan beberapa indikator kesejahteraan.

Kebiasaan tersebut dapat muncul ketika seseorang terus mencari informasi terbaru mengenai peristiwa yang mengkhawatirkan. Rasa penasaran dan keinginan untuk selalu mengetahui perkembangan terbaru dapat membuat aktivitas menggulir berlangsung lebih lama.

Penggunaan media sosial sebelum tidur juga perlu mendapat perhatian. Penelitian terhadap 663 orang dewasa menemukan hubungan antara doomscrolling dan kualitas tidur yang lebih buruk.

Kenali Tanda Doomscrolling

Salah satu tanda doomscrolling adalah sulit menghentikan aktivitas menggulir meski tidak lagi mendapatkan informasi yang bermanfaat. Pengguna juga dapat terus berpindah dari satu konten negatif ke konten lainnya.

Tanda lainnya adalah munculnya perasaan cemas atau tertekan setelah terlalu lama mengikuti berita negatif. Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi terhadap kebiasaan menggunakan media sosial.

Cara Mengurangi Doomscrolling

Masyarakat dapat mulai mengurangi kebiasaan tersebut dengan menetapkan batas waktu penggunaan media sosial. Pengaturan waktu membantu pengguna menentukan kapan harus membaca informasi dan kapan perlu beristirahat dari layar.

Memilih sumber informasi yang terpercaya juga penting untuk menghindari konsumsi konten negatif secara berlebihan. Pengguna tidak harus mengikuti seluruh informasi yang muncul dalam linimasa media sosial.

Menonaktifkan notifikasi yang tidak penting dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi dorongan membuka telepon pintar. Waktu sebelum tidur juga dapat digunakan untuk aktivitas lain tanpa paparan informasi yang memicu tekanan.

Selain itu, pengguna dapat mengganti kebiasaan menggulir tanpa tujuan dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Membaca buku, berolahraga ringan, berbincang dengan keluarga, atau melakukan aktivitas di luar layar dapat menjadi pilihan.

Jika konsumsi informasi negatif mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidur, atau kondisi psikologis, pengguna dapat mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional. Pengelolaan penggunaan media digital perlu dilakukan secara bertahap sesuai kondisi masing-masing.

Penggunaan media sosial pada dasarnya tetap dapat memberikan manfaat sebagai sumber informasi dan sarana komunikasi. Namun, kemampuan membatasi konsumsi informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kebiasaan digital yang lebih sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....