Kenapa Otak Kita Sulit Melupakan Pengalaman yang Menyakitkan?
- 13 Agt 2026 08:58 WIB
- Toli Toli
RRI.CO.ID, Tolitoli : Melupakan pengalaman menyakitkan tidak selalu mudah dilakukan hanya dengan mengatakan kepada diri sendiri untuk “move on”. Cara kerja otak justru membuat pengalaman yang memiliki muatan emosional kuat cenderung tersimpan lebih lama dalam ingatan.
Hal tersebut dibahas oleh neuroscience communicator Trisa Triandesa dalam podcast Suara Berkelas bersama Bilal Faranov episode “Kenapa OTAK Manusia Sulit Untuk Move On Dari Momen Menyakitkan?”.
Dalam diskusi tersebut, Trisa menjelaskan bahwa otak manusia tidak memiliki tombol untuk menghapus kenangan buruk. Otak pada dasarnya lebih dirancang untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan mengingat pengalaman yang dianggap penting.
“Memori-memori yang ada muatan emosionalnya akan lebih sulit dilupakan, karena otak kita memaknainya bahwa pengalaman itu penting untuk diingat untuk kebertahanan atau keberlangsungan hidup saya,” ujar Trisa.
Menurutnya, pengalaman yang menimbulkan rasa tidak nyaman dapat menjadi informasi bagi otak agar seseorang dapat menghindari kejadian serupa di kemudian hari. Karena itu, pengalaman emosional yang kuat tidak serta-merta hilang meskipun peristiwa tersebut telah lama berlalu.
Salah satu bagian otak yang berperan dalam proses tersebut adalah amigdala, yang berfungsi mendeteksi ancaman dan membantu tubuh merespons situasi yang dianggap berbahaya.
Trisa menjelaskan, keberadaan amigdala bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai musuh. Sebaliknya, bagian otak tersebut memiliki fungsi penting dalam melindungi manusia dari berbagai ancaman.
Namun, ketika sistem deteksi ancaman menjadi terlalu aktif atau overactivated, seseorang dapat menjadi lebih mudah merasakan stres, cemas, takut, maupun terus teringat pada pengalaman yang tidak menyenangkan.
Dalam kondisi tersebut, memahami cara kerja otak menjadi penting agar seseorang tidak langsung menganggap dirinya lemah hanya karena masih terpengaruh oleh pengalaman masa lalu.
Trisa juga membahas konsep neuroplastisitas, yakni kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk perubahan berdasarkan pengalaman, pembelajaran, serta kebiasaan.
Pemahaman mengenai neuroplastisitas memberikan gambaran bahwa kondisi mental dan pola respons seseorang bukan sesuatu yang selalu bersifat permanen. Kebiasaan yang lebih sehat dan pengalaman positif secara bertahap dapat membantu membentuk pola baru dalam otak.
Karena itu, proses pemulihan dari depresi maupun kecemasan tidak hanya berkaitan dengan keinginan untuk melupakan pengalaman buruk, tetapi juga membangun kebiasaan dan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.
Dengan memahami bahwa otak bekerja untuk melindungi manusia dari pengalaman yang dianggap mengancam, seseorang dapat belajar memperlakukan dirinya dengan lebih memahami dan tidak terburu-buru memaksakan diri untuk melupakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....