Hari Batik Nasional, SMAN 1 Tolitoli Kenalkan Praktik Membatik

  • 05 Okt 2026 09:46 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk menanamkan kecintaan generasi muda terhadap batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui pengenalan batik secara langsung kepada siswa di lingkungan sekolah.

Guru Seni Budaya sekaligus pengajar praktik membatik SMAN 1 Tolitoli, Moh. Fauzi, S.Pd., Gr, mengatakan pelestarian batik di sekolah tidak cukup hanya melalui pembelajaran sejarah dan pengenalan motif. Menurutnya, siswa juga perlu mendapatkan pengalaman praktik secara langsung agar lebih memahami proses pembuatan batik.

Melalui praktik membatik, siswa diajarkan berbagai tahapan, mulai dari membuat pola, mencanting, memberikan warna hingga menghasilkan kain batik. Pengalaman tersebut dinilai penting untuk mengenalkan keterampilan, ketekunan, kreativitas serta nilai budaya yang terkandung di balik selembar kain batik.

“Dengan mengenalkan proses membatik sejak di bangku sekolah, kita ikut menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian siswa terhadap budaya Indonesia,” ujar Moh. Fauzi kepada RRI.co.id, Jumat (2/10/2026).

Ia menilai batik Tolitoli memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui keterlibatan generasi muda dan sekolah. Kekayaan budaya, alam, flora, fauna serta kearifan lokal Tolitoli dapat menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan motif, warna dan filosofi baru yang mencerminkan identitas daerah.

Salah satu motif yang telah berkembang dan dikenal sebagai salah satu ciri khas Kabupaten Tolitoli adalah motif cengkeh. Fauzi berharap ke depan muncul berbagai inovasi motif lainnya sehingga dapat menambah kekayaan batik daerah sekaligus memperkenalkan potensi budaya Tolitoli lebih luas, khususnya di Sulawesi Tengah.

Di SMAN 1 Tolitoli, siswa tidak hanya dikenalkan pada batik tulis, tetapi juga praktek batik cap dan batik painting. Fauzi menyebut SMAN 1 Tolitoli merupakan salah satu sekolah yang sejak awal mengajarkan praktek membatik di Kabupaten Tolitoli dan hingga kini masih aktif melakukannya. Ia berharap sekolah tersebut dapat menjadi penggerak bagi sekolah lainnya dalam melestarikan batik di kalangan generasi muda.

Ke depan, Fauzi berharap pelestarian batik Tolitoli tidak berhenti pada kemampuan membuat kain batik, tetapi berkembang menjadi produk fesyen yang menarik dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda, menurutnya, tidak hanya perlu mampu membuat batik, tetapi juga berani menggunakan dan menunjukkan rasa bangga terhadap batik daerah dengan tetap mempertahankan nilai serta kearifan lokal Tolitoli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....