Orang Suku Pedalaman Halmahera dari Perspektif Kosmologi dan Antropo-Molekuler

  • 24 Sep 2026 21:36 WIB
  •  Ternate

Oleh: Jubhar C. Mangimbulude, Ph.D

RRI.CO.ID, Ternate - Indonesia merupakan negara degan keberagaman suku, agama, ras, bahasa dan budaya. Suku Tobelo Dalam, atau biasa dikenal dengan O Hongana Manyawa, merupakan suatu komunitas yang lazim disebut suku Tugutil.

Komunitas suku ini mendiami dan hidup di hutan pedalaman wilayah Halmahera. Komunitas Suku Tugutil mendiami beberapa daerah pedalaman Tobelo, dan Kao wilayah Halmahera Utara, pedalaman Wasile, Maba dan Buli, wilayah, serta di pedalaman Oba Utara wilayah di Tidore Kepulauan dan juga di beberapa daerah lainnya.

Tahun 1990an ada program Dinas Sosial melakukan relokasi beberapa anggota suku Tugutil keluar dari pedalaman dan menetap di pemukiman yang telah disediakan. Namun, ada sebagian anggota kembali ke pedalaman melanjutkan kehidupan asalnya. Data terakhir tentang populasi komunitas suku Tugutil di pedalaman cenderung menurun.

Persepsi umum dari masyarakat di Halmahera terhadap Suku Tugutil cenderung merujuk suatu pada suatu keberadaan sebagai masyarakat primitif, “keterbelakangan”, “kebodohan” “ketertinggalan” serta masih banyak lagi konotasi-konotasi yang bermakna serupa lainnya (Latif,200), bahkan seringkali muncul stigma negatif yang melekat dengan suku tersebut.

Tentunya, persepsi dan stigma negatif yang berkembang di kalangan Masyarakat modern terhadap suku Tugutil tidak sepenuhnya benar, perlu diluruskan. Selama ini masyarakat modern membangun persepsi terhadap komunitas suku Tugutil berdasarkan persepsi sepihak.

Perlu juga memahami bagaimana komunitas suku Tugutil memahami kehidupan masyarakat modern. Perjumpaan kedua persepsi (Masyarakat modern dan komunitas suku Tugutil) tentunya akan menghasilkan suatu cara pandang baru yang lebih bersahabat.

Kosmologi Komunitas Suku Tugutil

Memahami kehidupan suku Tugutil, sangat menarik, catatan ilmiah tentang suku ini, pertama kali dipublikasikan pada tahun 1929 berupa artikel pendek dalam buku berjudul; De Ternate Archipel” Serie Q, No.43 Ontleedn aan de memorievan overgave van den toenmaligen Controleur van Tobelo, PJM Baden, van 26 Maret 1929, pag 401-404 (Latif ,2009).

Sejumlah studi antropologi, sosiologi, budaya dan ekonomi telah dilakukan guna memahami sosio-kultural, adat dan perilaku komunitas suku Tugutil (Sumarahadi,2021; Ici,2021; Santimano; Agustada, 2024; Putri,2026).

Tulisan ini sedikit menguraikan aspek kosmologi dan antropo-molekuler komunitas suku Tugutil. Secara literatur, Terminologi Kosmologi merujuk cara pandang atau pemahaman manusia mengenai asal-usul, struktur, dan makna keberadaan diri mereka di dalam alam semesta.

Dalam lingkup kosmologi komunitas suku Tugutil dapat dimengerti sebagai sebagai komunitas yang memiliki seperangkat keyakinan mengenai asal-usul manusia, peran dalam kehidupan, serta keterkaitannya dengan alam yang membentuk suatu pemahaman komprehensif yang membentuk pola pikir mereka dalam menciptakan tata ruang yang harmonis antara perilaku dengan alam semesta (Titisari dan Surjono, 2015).

Komunitas suku Togutil sebagian besar hidup di Hutan.

Bagi mereka hutan adalah mikro-kosmos sebagai ruang hidup. Dari hutan, mereka memperoleh sumber hidup (Sumber makanan, sumber perlindungan dan sumber pengobatan). Itu sebabnya relasi antara komunitas suku Tugutil dengan hutan sangat harmonis.

Mereka selalu menjaga hutan dari kerusakan, mereka tidak menebang pepohonan secara sembarangan. Kehidupan yang selalu berpindah tempat tinggal (nomaden) di sekitar aliran sungai cara menjaga keseimbangan ekosistem, tidak mengambil lebih dari alam sediakan.

Mereka juga memahami bahwa Hutan sebagai ruang sakral, hutan bukan sekadar tempat mencari makan, melainkan rahim kehidupan, identitas, dan ruang spiritual tempat leluhur serta roh-roh alam bersemayam. Mereka meyakini kekuatan tertinggi atau pemilik alam semesta yang disebut Jomadutu, yang juga dikenal sebagai Ogokirimoi.

Mereka mengenal teritori ruang hidup (Wilayah), sangat menghormati dan selalu menjaga agar tidak melanggar batas batas teritori. Kenyataan ini mengungkap bahwa sesungguhnya mereka memiliki sistem nilai dan etika (peradaban), sebagaimana yang dimiliki oleh masyarakat modern. Nilai-nilai ini digunakan untuk menjaga harmonisasi sekaligus sebagai upaya adaptasi terhadap lingkungan demi kelangsungan hidup.

Sejumlah studi sebelumnya menjelaskan bahwa suku Tugotil tidak mengenal struktur sosial dalam komunitas. Itu artinya komunitas mereka menganut sistem egaliterisme (terminologi masyarakat modern) yang merujuk pada pengertian bahwa semua anggota kelompok memiliki status, hak, dan akses yang sama terhadap sumber daya. Suku yang tidak memiliki pemimpin formal, kepala suku herediter, atau kelas sosial umumnya menerapkan prinsip ini.

Belakangan ini, seiring dengan perkembangan pembangunan dan ekspansi pertumbuhan dunia industri di Halmahera yang memerlukan ruang yang luas merupakan ancaman tersendiri atas ketersediaan ruang hidup bagi komunitas suku Tugutil. Bahkan dalam beberapa kasus muncul konflik antara pekerja perusahaan atau masyarakat lokal dengan beberapa komunitas suku Tugutil.

Dari perspektif masyarakat modern, keberadaan komunitas suku Togutil, menjadi tantangan sekaligus ancaman keselamatan kerja dalam melakukan aktivitas. Jika kita mau jujur bukankah dari perspektif komunitas suku Tugutil, keberadaan industri yang mengeksploitasi hutan jauh kebagian pedalaman justru menjadi ancaman tersendiri bagi ruang untuk hidup (lebensraum) dan juga mikrokosmos mereka?

Problem semacam ini mengingatkan kita pada 300an tahun lalu, terjadi konflik sosial dan keterdesakan masyarakat asli (Native) Indian ketika gelombang migrasi dari Eropa ke benua Amerika untuk kehidupan baru dan aktivitas industri pertambangan emas.

Pertanyaan yang muncul adalah? Akankah negara (Pemerintah) terus melakukan Civilisasi komunitas suku Tugutil menjadi satu masyarakat modern yang menempati suatu areal definitif dan membangun struktur sosial masyarakat?

Akankah Negara tetap mempertahankan entitas mereka sebagaimana adanya termasuk perlindungan terhadap ruang kosmologi mereka?

Diperlukan jembatan komunikasi antara komunitas suku Tugutil dan masyarakat modern dalam menemukan titik kepercayaan bersama tentang ruang hidup dan teritori, walaupun butuh waktu tetapi ini cara untuk menjaga keamanan agar tidak menimbulkan korban, dan rasa dendam.

Bagaimanapun Indonesia dikenal karena keragaman suku bangsa sehingga secara sadar negara mengeluarkan peraturan untuk melindungi keberadaan keragaman suku di setiap jengkal wilayah NKRI.

Dari Mana Suku Tugutil Berasal?

Secara historis suku Tugutil diyakini sebagai orang asli di pulau Halmahera yang telah hidup ratusan tahun lalu. Dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat diyakini bahwa suku Tugutil merupakan keturunan prajurit yang melarikan diri ke hutan untuk menghindari pajak pada kolonial Belanda, atau bahkan sisa-sisa bangsa Portugis yang pernah singgah di Halmahera dan kapalnya karam sekitar tahun 1400an-1500an. Apakah benar demikian? Tidak ada yang mengerti secara pasti.

Belakangan ini, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman melakukan kajian genetika populasi dengan menggunakan pendekatan molekuler pelacak DNA, untuk mengetahui profil genetika suku Tugutil.

Dari hasil analisa laboratorium mengkonfirmasi bahwa suku Tugutil merupakan salah satu populasi penting dalam memetakan sejarah migrasi manusia purba, khususnya sebagai titik temu genetika (lokus pembauran) antara penutur Austronesia dan Papua. Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa Suku Togutil memiliki proporsi genetik campuran, menjadikan wilayah Halmahera sebagai laboratorium evolusivisual dimana kedua arus genetika ini melebur secara intensif (Harian Kompas, 2019).

Melalui analisis molekuler, Lembaga Eijkman berhasil mematahkan asumsi/mitos di atas. Data genetika membuktikan bahwa Suku Tugutil adalah populasi asli (indigenous) yang sudah mendiami pedalaman Halmahera selama ribuan tahun, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropake Nusantara. Mereka terkonsentrasi di hutan untuk mempertahankan pola hidup berburu dan meramu.

Lembaga Eijkman berhasil memetakan DNA Suku Togutil melalui tiga penanda genetik Kromosom Y (garis ayah), DNA Mitokondria (garis ibu), dan DNA Autosomal (percampuran kedua orang tua). Hasilnya menjadi bukti ilmiah penting bahwa masyarakat Nusantara, termasuk suku pedalaman seperti Tugutil, terbentuk dari sejarah migrasi dan pembauran yang dinamis, bukan dari satu garis keturunan tunggal yang murni.

Dari perspektif evolusi molekuler, wilayah jelajah Suku Tugutil—merupakan lokus pertemuan awal (contact zone) antara gelombang migrasi manusia purba penutur Austronesia yang datang dari arah Asia/Taiwan dengan populasi lokal non-Austronesia yang berkerabat dengan Papua. Artinya ada anomali molekuler ini terjadi karena adanya proses pembauran (admixture) yang masif di masa lampau.

Temuan studi molekuler tentang suku Tugutil memiliki indikasi kuat untuk dilakukan penelitian lanjutan dalam mendeteksi kerentanan dan kemampuan bertahan dari penyakit tertentu.

Selain untuk memetakan asal-usul sejarah migrasi, pemetaan genetik spesifik pada suku terisolasi seperti Tugutil oleh Lembaga Eijkman juga bertujuan untuk mendeteksi kerentanan atau daya tahan populasi terhadap penyakit tertentu.

Struktur DNA hasil pembauran ini memengaruhi bagaimana tubuh mereka merespons infeksi penyakit endemik (seperti malaria) serta mempengaruhi efektivitas metabolisme obat-obatan modern (pengobatan presisi).

Penutup

Bagaimanapun juga, keberadaan komunitas suku Tugotil adalah kekayaan kultural bagi masyarakat Halmahera dan Indonesia. Terkait dengan pilihan cara hidup modern di pedalaman hutan Halmahera adalah suatu pilihan beralasan yang patut dihargai dan dihormati.

Kehadiran mereka (suku Tugutil) memberikan kontribusi besar terhadap kelestarian hutan di Halmahera. Dari perspektif evolusi Suku Tugotil merupakan kelompok pertemuan gen pool antara kelompok Austronesia dan non Austronesia yang memiliki keunikan.

Menjadi catatan penting bagi kita semua adalah bagaimana membangun jembatan komunikasi antara masyarakat desa dengan komunitas suku Tugutil secara egaliter.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....