DiSarpuS - ICMI dan Mahakarya Empat Kesultanan Malut
- 30 Jan 2026 01:23 WIB
- Ternate
Oleh: Muliadi Tutupoho (Kepala Disarpus Maluku Utara)
“Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tetapi belum pernah ditulis, maka kamulah yang harus menuliskannya.” Toni Morrison, Novelis
RRI.CO.ID, Ternate- Ada keyakinan lama yang terus berulang dalam sejarah pengetahuan: setiap karya yang lahir dari kegelisahan. Empat buku yang akan diluncurkan pada 30 Januari 2026 di Kadaton Ternate ini pun berangkat dari kegelisahan yang sama—tentang sejarah, peradaban, dan kesultanan di Maluku Utara yang selama ini lebih sering dituturkan oleh orang lain, bukan oleh kita sendiri.
Kegelisahan itu mula-mula hadir sebagai pertanyaan sederhana, nyaris naif: mengapa Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo—empat kekuatan penting dalam sejarah Nusantara dan bahkan dunia—belum juga ditulis secara komprehensif dalam satu tarikan napas? Padahal jejak mereka melintasi laut, perdagangan global, diplomasi, agama, dan kebudayaan lintas benua.
Pertanyaan itulah yang kemudian mempertemukan Kami dengan para penulis, akademisi, dan jurnalis. Diskusi demi diskusi berlangsung, hingga pada 2023 kegelisahan ini menemukan ruangnya di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Maluku Utara. Di sana kami menyadari bahwa kegelisahan ini bukan kegelisahan personal, melainkan kegelisahan kolektif.
Di ICMI Maluku Utara berhimpun para sarjana lintas disiplin—sosiolog, antropolog, sejarawan, hingga penulis muda. Dari sanalah kerja panjang dimulai. Dengan pendekatan riset kualitatif deskriptif, mereka menelusuri sumber-sumber informasi sejarah, budaya, adat, di Ternate, Halmahera Barat, Halmahera Selatan, Tiddore bahkan di Raja empat, Maluku. Setelah itu penelusuran arsip berlanjut di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), menyigi sumber-sumber di Belanda, Portugal, dan Spanyol, mewawancarai para informan kredibel, mengunjungi situs-situs sejarah, serta merumuskannya kembali melalui forum-forum diskusi terfokus (FGD).
Empat buku ini bukan sekadar tumpukan halaman. Ia adalah jejak dari proses intelektual yang melelahkan, kerap sunyi, dan menuntut keberanian. Karena itu, peluncurannya bukan hanya perayaan terbitnya karya, melainkan perayaan atas ide, pengetahuan, dan keberanian untuk menarasikan sejarah dari sudut pandang kita sendiri.
Keempat buku tersebut ditulis oleh 22 penulis yang tergabung dalam tim riset ICMI Orwil Maluku Utara, terbagi dalam empat kelompok kajian sesuai kesultanan yang diteliti.
Melalui buku Warisan Tamaddun Islam Kesultanan Ternate, Darsis Humah, Syarifuddin Usman, Irmon Machmud, Laily Ramadhani Can, dan Ummulkhairy M. Dun mengajak pembaca menyusuri legenda, sistem pemerintahan, ritual, hukum adat, pendidikan Islam, kesenian, hingga budaya material Kesultanan Ternate.
Dalam Manusia Tidore: Sejarah Peradaban dan Kesultanan, Murid Tonirio, Hudan Irsyadi, Mahmud Ici, Rahmat R. Wali, Nur Ida, dan Hamdani Rais mengurai transformasi sosial-politik, praktik keislaman, ritual, kesenian, serta jejak budaya masyarakat Tidore.
Buku Kesultanan Bacan: Dinamika Kekuasaan dan Kosmopolitanisme Ekonomi Global karya Herman Oesman, Fahrul A. Muid, Ali Lating, Syaiful Bahri, Syarif Abdullah, dan Sandi Alim menelusuri sejarah pembentukan Kesultanan Bacan, sistem ritual, institusi hukum adat, lembaga pendidikan, kesenian, budaya material, hingga relasinya dengan ekonomi global.
Sementara Kesultanan Jailolo dan Keragaman Suku Bangsa di Halmahera Barat yang ditulis Agus Salim Bujang, Abd Rauf Wajo, Abd Rahman, Galim Umabahi, dan Andri Idrus menghadirkan Jailolo dalam lintasan sejarah, penyiaran Islam, hukum adat, keragaman etnis, kesenian, serta budaya material di wilayah Halmahera Barat.
Meski bersandar pada riset, keempat buku ini ditulis dengan bahasa yang relatif sederhana agar dapat diakses pelajar dan pembaca umum, sekaligus dirancang untuk masuk ke dalam kurikulum pendidikan.
Sepanjang ingatan kami, belum pernah ada buku tentang empat kesultanan Maluku Utara yang diterbitkan secara bersamaan dalam empat jilid terpisah.
Saya teringat petuah Pramoedya Ananta Toer: “Karena kau menulis, suaramu akan abadi, sampai jauh di kemudian hari.” Juga pengingat sastrawan Okky Madasari bahwa penulis-penulis Maluku Utara memiliki tanggung jawab untuk menuturkan negerinya sendiri dari sudut pandangnya sendiri.
Harapan saya sederhana: buku-buku yang diterbitkan ICMI Orwil Maluku Utara bekerja sama dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Maluku Utara ini tidak hanya dibaca, melainkan pula diperdebatkan, dikritisi, dan dimaknai bersama. Dari dialog yang jujur, pemahaman yang lebih utuh akan lahir.
Sebelumnya, sejumlah karya penting telah lebih dulu terbit, di antaranya Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250–1950 karya Adnan Amal, serta Nuku: Perjuangan Kemerdekaan di Maluku Utara 1780–1805 karya Muridan S. Widjojo.
Empat buku tersebut tidak berdiri untuk meniadakan, melainkan untuk melanjutkan ingatan. Sebab sejarah pada akhirnya bukan hanya soal masa lalu. Ia adalah cara sebuah masyarakat mengenali dirinya sendiri. Salam Literasi Arsip. (*)