Mengabdi lewat Budaya Menginspirasi lewat Karya

  • 17 Sep 2026 20:10 WIB
  •  Ternate

15.27%

Oleh: Jainul Yusup

Pengajar Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Unkhair & Ketua Panitia Dies Natalis ke-27 FIB Unkhair

Dua puluh tujuh tahun bukan sekadar angka bagi sebuah institusi pendidikan. Ia adalah perjalanan panjang untuk membuktikan sejauh mana ilmu pengetahuan mampu tumbuh bersama masyarakat dan kebudayaan yang menjadi akarnya.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun memasuki usia ke-27 dengan membawa satu pertanyaan penting. Apakah perguruan tinggi hanya menjadi tempat memproduksi pengetahuan, atau mampu menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan untuk merawat kehidupan masyarakat?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting karena FIB Unkhair tumbuh di Bumi Moloku Kie Raha. Sebuah kawasan yang sejak berabad-abad lalu menjadi ruang perjumpaan manusia, kebudayaan, perdagangan rempah-rempah, dan berbagai kepentingan dunia.

Sejarah panjang Maluku Utara sesungguhnya menyediakan ruang belajar yang tidak pernah habis. Laut, pulau, bahasa, tradisi, kesultanan, perdagangan, hingga perjumpaan berbagai bangsa merupakan bagian dari laboratorium kebudayaan yang hidup di sekitar kita.

Namun kekayaan sejarah tidak otomatis menjamin kebudayaan akan tetap hidup. Tanpa penelitian, dokumentasi, pendidikan, dan keterlibatan generasi muda, warisan tersebut perlahan dapat kehilangan makna di tengah perubahan zaman.

Karena itu, tema “Mengabdi Lewat Budaya, Menginspirasi Lewat Karya” dalam Dies Natalis ke-27 FIB Unkhair bukan sekadar rangkaian kata. Ia merupakan ajakan untuk kembali menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari pengabdian perguruan tinggi.

Budaya tidak boleh hanya ditempatkan sebagai benda masa lalu yang disimpan di museum. Budaya adalah sesuatu yang hidup, bergerak, beradaptasi, dan terus membentuk cara masyarakat memahami dirinya.

Di sinilah perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Ilmu-ilmu humaniora harus mampu menjembatani masa lalu dengan persoalan masa kini, sekaligus membantu masyarakat membaca kemungkinan masa depan.

Pendidikan yang Membentuk Kesadaran

Di ruang kelas, pendidikan budaya tidak cukup berhenti pada hafalan sejarah dan teori. Mahasiswa perlu diajak memahami bagaimana sebuah peristiwa masa lalu membentuk struktur sosial, identitas, konflik, solidaritas, dan kehidupan masyarakat hari ini.

Program Studi Ilmu Sejarah, Usaha Perjalanan Wisata, Sastra Inggris, Sastra Indonesia, serta bidang antropologi dan budaya memiliki ruang yang luas untuk membangun kesadaran tersebut. Pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu membaca realitas secara kritis, tetapi tetap memiliki kebanggaan terhadap identitas kebudayaannya.

Kebanggaan terhadap budaya tentu tidak berarti menutup diri dari dunia luar. Justru dari akar kebudayaan yang kuat, generasi muda dapat berdialog dengan dunia tanpa kehilangan identitasnya.

Penelitian Jangan Jauh dari Masyarakat

Persoalan berikutnya adalah penelitian. Penelitian di bidang humaniora tidak seharusnya hanya berhenti sebagai laporan akademik yang tersimpan di perpustakaan atau memenuhi kewajiban administratif perguruan tinggi.

Masyarakat memiliki begitu banyak pengetahuan yang belum terdokumentasikan. Tradisi lisan, sejarah kampung, naskah kuno, situs sejarah, kebudayaan maritim, bahasa daerah, hingga berbagai praktik sosial merupakan kekayaan pengetahuan yang membutuhkan perhatian akademik.

Ketika sebuah tradisi hilang tanpa dokumentasi, yang hilang bukan hanya sebuah kebiasaan. Kita juga kehilangan bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Di tengah ledakan informasi digital, ancaman terhadap ingatan budaya justru semakin kompleks. Informasi datang begitu cepat, tetapi tidak semuanya memiliki kedalaman, konteks, dan ketepatan sejarah.

Karena itu, penelitian harus menjadi salah satu cara untuk menjaga masyarakat dari amnesia kolektif. Kampus perlu hadir bukan hanya sebagai pengamat kebudayaan, tetapi sebagai bagian dari proses penyelamatan pengetahuan masyarakat.

Dari Ilmu Menjadi Karya

Pengabdian kepada masyarakat kemudian menjadi tahap berikutnya. Ilmu pengetahuan akan kehilangan sebagian maknanya apabila tidak pernah kembali kepada masyarakat yang menjadi salah satu sumber pengetahuannya.

Pendampingan komunitas, pelestarian situs budaya, dokumentasi sejarah lokal, pengembangan wisata berbasis sejarah, serta penguatan literasi kebudayaan merupakan bentuk pengabdian yang dapat dilakukan. Semuanya membutuhkan keterlibatan dosen dan mahasiswa secara langsung.

Hal yang sama berlaku bagi karya. Buku, artikel ilmiah, karya sastra, film dokumenter, pameran seni, hingga produk kreatif mahasiswa merupakan cara lain untuk membuat pengetahuan berbicara kepada publik.

Karya menjadikan ilmu lebih mudah disentuh masyarakat. Dari karya pula, gagasan akademik dapat bergerak keluar dari ruang kelas dan menemukan pembacanya di tengah kehidupan sehari-hari.

Dies Natalis Bukan Sekadar Perayaan

Karena itu, rangkaian Dies Natalis ke-27 FIB Unkhair seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai agenda perayaan tahunan. Ia dapat menjadi ruang mempertemukan kampus dengan pemerintah, budayawan, komunitas, dan masyarakat.

Seminar, pameran, kegiatan akademik, dan kompetisi kreatif bukan hanya kegiatan seremonial. Di dalamnya terdapat ruang untuk bertukar gagasan, menguji kreativitas, sekaligus menunjukkan bahwa ilmu budaya memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat.

Sebagai ketua panitia, penulis melihat sendiri bagaimana mahasiswa dan dosen bekerja bersama mempersiapkan rangkaian kegiatan. Semangat gotong royong tersebut justru memperlihatkan bahwa nilai kebudayaan dapat hidup melalui tindakan sederhana di lingkungan kampus.

Dies Natalis kemudian menjadi momentum untuk berhenti sejenak dan melihat perjalanan yang telah ditempuh. Apa yang sudah berhasil perlu dipertahankan, sementara berbagai kekurangan harus menjadi bahan evaluasi untuk perjalanan berikutnya.

Menghadapi Zaman yang Berubah

Tantangan yang dihadapi FIB Unkhair hari ini tentu berbeda dengan dua puluh tujuh tahun lalu. Teknologi digital mengubah cara manusia memperoleh informasi, sementara generasi muda memiliki cara berbeda dalam memandang kebudayaan dan identitas.

Perubahan tersebut tidak harus dilihat sebagai ancaman semata. Ia dapat menjadi peluang bagi ilmu budaya untuk menemukan cara baru dalam memperkenalkan sejarah dan kebudayaan kepada generasi yang semakin akrab dengan teknologi.

Humaniora justru memiliki modal penting untuk menghadapi perubahan tersebut. Empati, nalar kritis, kreativitas, dan kemampuan memahami manusia merupakan kekuatan yang tidak mudah digantikan oleh perkembangan teknologi.

Di sinilah FIB Unkhair perlu terus membangun dirinya. Bukan hanya sebagai tempat belajar sejarah dan budaya, tetapi sebagai pusat pengetahuan yang mampu membaca perubahan masyarakat.

Merawat Akar, Menatap Masa Depan

Dua puluh tujuh tahun FIB Unkhair adalah perjalanan merawat ilmu sekaligus merawat ingatan. Setiap penelitian dosen, karya mahasiswa, kegiatan pengabdian, dan kontribusi akademik merupakan bagian dari perjalanan panjang membangun peradaban kampus.

Kampus yang tumbuh di Bumi Moloku Kie Raha memiliki tanggung jawab untuk tidak membiarkan kekayaan sejarah hanya menjadi cerita masa lalu. Warisan tersebut harus terus diteliti, ditafsirkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Maka, “Mengabdi Lewat Budaya, Menginspirasi Lewat Karya” seharusnya tidak berhenti sebagai tema Dies Natalis. Ia perlu menjadi semangat yang hadir dalam ruang kelas, penelitian, pengabdian, dan setiap karya yang lahir dari Fakultas Ilmu Budaya.

Sebab, mengabdi lewat budaya berarti merawat akar tempat masyarakat tumbuh. Sementara menginspirasi lewat karya berarti memastikan akar tersebut terus melahirkan gagasan untuk masa depan.

Dari Bumi Moloku Kie Raha, FIB Unkhair memiliki kesempatan untuk terus memperkuat perannya sebagai ruang akademik yang merawat sejarah, kebudayaan, dan kemanusiaan. Usia 27 tahun bukan garis akhir, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Dirgahayu ke-27 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun.

Mengabdi Lewat Budaya, Menginspirasi Lewat Karya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....