Dari Weda hingga Bandung: Jejak Sejarah Bidang Kesehatan dr. Chasan Boesoirie

  • 02 Jul 2026 07:57 WIB
  •  Ternate

Oleh: Syahril Muhammad, Ketua MSI Cabang Maluku Utara

Indonesia tidak hanya dibangun oleh kebijakan pemerintah atau perkembangan teknologi kedokteran. Di baliknya, terdapat sosok-sosok yang mengabdikan hidupnya untuk memastikan masyarakat, bahkan di wilayah paling terpencil, memperoleh hak atas layanan kesehatan. Salah satu di antaranya adalah dr. H. Chasan Boesoirie, seorang dokter yang jejak pengabdiannya membentang dari Weda di Halmahera hingga Bandung, Jawa Barat.

Nama dr. Chasan Boesoirie mungkin lebih dikenal sebagai nama rumah sakit rujukan terbesar di Maluku Utara. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa nama tersebut merupakan penghormatan atas dedikasi seorang dokter yang memilih berada di garis depan pelayanan kesehatan pada masa ketika infrastruktur medis di Indonesia Timur masih sangat terbatas.

Ketika ditugaskan di Weda pada akhir 1930-an, dr. Chasan Boesoirie menghadapi tantangan yang jauh berbeda dengan praktik kedokteran saat ini. Sarana transportasi terbatas, obat-obatan sulit diperoleh, dan fasilitas kesehatan hampir tidak tersedia. Dalam kondisi demikian, seorang dokter bukan hanya bertugas mengobati pasien, tetapi juga menjadi edukator kesehatan, pengelola pelayanan medis, sekaligus harapan masyarakat yang belum mengenal sistem kesehatan modern.

Pengabdiannya semakin berat ketika Perang Dunia II dan pendudukan Jepang melanda Indonesia. Di tengah keterbatasan logistik dan situasi keamanan yang tidak menentu, pelayanan kesehatan tetap harus berjalan. Bagi dr. Chasan Boesoirie, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan kemanusiaan yang tidak mengenal batas ruang maupun waktu.

Setelah Indonesia memasuki masa kemerdekaan, kontribusinya tidak berhenti di Maluku Utara. Kepemimpinannya di Rumah Sakit Rantja Badak kini Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung menunjukkan bahwa seorang dokter dapat berperan sebagai pembangun institusi kesehatan. Di sana, ia memperkuat manajemen rumah sakit, mengembangkan layanan spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT), serta ikut merintis pendidikan dokter spesialis melalui Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Menariknya, perjalanan hidup dr. Chasan Boesoirie memperlihatkan bahwa pembangunan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas, tetapi terutama oleh kualitas sumber daya manusia. Bahkan ketika pernah ditawari jabatan Gubernur Maluku, ia memilih tetap mengabdi sebagai dokter. Keputusan itu menunjukkan bahwa, baginya, membangun kesehatan masyarakat merupakan bentuk kepemimpinan yang sama pentingnya dengan memegang jabatan politik.

Jejak sejarah tersebut menyimpan pelajaran penting bagi Indonesia saat ini. Di tengah pembangunan rumah sakit modern, transformasi digital kesehatan, dan kemajuan teknologi medis, tantangan pemerataan pelayanan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah, terutama di wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Apa yang diperjuangkan dr. Chasan Boesoirie puluhan tahun lalu masih memiliki relevansi hingga sekarang: kesehatan harus hadir sedekat mungkin dengan masyarakat.

Bagi Maluku Utara, nama dr. Chasan Boesoirie bukan sekadar identitas sebuah rumah sakit. Ia merupakan simbol pengabdian, profesionalisme, dan keberpihakan kepada masyarakat. Mengingat kembali kiprahnya bukan semata-mata mengenang masa lalu, melainkan mengambil inspirasi untuk membangun sistem kesehatan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, perjalanan dari Weda hingga Bandung bukan hanya kisah perpindahan seorang dokter dari satu daerah ke daerah lain. Itu adalah perjalanan sejarah tentang bagaimana ilmu pengetahuan, kepedulian, dan pengabdian mampu membentuk fondasi pelayanan kesehatan Indonesia. Warisan terbesar dr. Chasan Boesoirie bukan hanya bangunan rumah sakit atau jabatan yang pernah diembannya, melainkan teladan bahwa seorang tenaga kesehatan dapat menjadi agen perubahan yang meninggalkan jejak panjang dalam sejarah bangsa.

Di era ketika pelayanan kesehatan sering diukur dari kecanggihan teknologi dan besarnya anggaran, kisah dr. Chasan Boesoirie mengingatkan kita bahwa inti dari sistem kesehatan tetaplah manusia. Selama masih ada tenaga kesehatan yang mengutamakan pengabdian di atas kepentingan pribadi, semangat yang pernah tumbuh di Weda dan berkembang hingga Bandung akan terus hidup sebagai fondasi moral pembangunan kesehatan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....