Karhutla Halut Capai 111 Titik, Luas Terdampak 489,35 Hektare

  • 17 Sep 2026 20:33 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Halmahera Utara — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, tercatat mencapai 111 titik. Jumlah tersebut tersebar di 15 kecamatan dan 67 desa, sejak pertama kali dilaporkan pada 17 Juli 2026 hingga 15 September 2026.

Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) gabungan memperkirakan total luasan lahan yang terbakar mencapai 489,35 hektare. Data tersebut merupakan titik kebakaran yang dilaporkan kepada tim dan telah ditangani di lapangan.

Kepala Pelaksana BPBD Halmahera Utara, Hentje M.L. Hetharia menyatakan, jumlah titik kebakaran berpotensi lebih besar jika mengacu pada data pemantauan satelit BMKG maupun NASA. Sebab, tidak seluruh kejadian kebakaran dilaporkan oleh masyarakat.

“Ada sekitar 97 persen titik api yang mereka tangani berasal dari kawasan kebun warga. Sementara sekitar 3 persen lainnya berada di tepian jalan dan diduga berkaitan dengan puntung rokok yang dibuang sembarangan,” ucap Hentje kepada rri.co.id, Kamis 17 September 2026.

Dalam penanganannya, kata Hentje, tim gabungan Damkar menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama dari sisi peralatan dan kendaraan. Saat ini, petugas hanya didukung dua unit mobil pemadam, tiga mobil pikap untuk suplai air, dua mobil tangki suplai air, serta satu mobil pikap untuk mengangkut peralatan.

“Petugas juga menggunakan sekitar lima unit alkon dan sejumlah peralatan portabel seperti sprayer. Penanganan di lapangan turut melibatkan masyarakat, TNI dan Polri,” ujarnya.

Pemadaman dilakukan dengan memprioritaskan titik api agar tidak meluas ke kawasan lain. Namun, kondisi cuaca yang kering, suhu panas, serta angin kencang membuat api berpotensi kembali menyebar.

Sejumlah wilayah yang disebut cukup rawan antara lain Kecamatan Tobelo, Tobelo Selatan, Tobelo Barat, Kao Utara, Kao Malifut, dan Kao Teluk. Wilayah dengan vegetasi alang-alang dinilai lebih mudah terbakar dan menyebabkan api cepat meluas.

Hentje mengatakan, untuk mempercepat penanganan, pemerintah daerah membagi wilayah operasi menjadi enam zona, yakni Loloda, Galela, Tobelo, Kao Malifut, dan Kao Teluk, dengan pembagian personel sesuai wilayah penanganan. Jumlah personel yang terlibat secara keseluruhan mencapai sekitar 100 hingga 200 orang, termasuk unsur Damkar, BPBD, Satpol PP, TNI-Polri, dan masyarakat.

Selain dukungan pemerintah dan aparat, sejumlah pihak swasta dan BUMN turut membantu penanganan karhutla, termasuk menyediakan kendaraan pemadam dan suplai air. Kendaraan pemadam milik bandara juga dapat membantu, meski penggunaannya terbatas pada kebutuhan tertentu.

“Masih terdapat sejumlah titik yang berpotensi mengalami penyebaran api. Berdasarkan pemantauan udara BMKG yang disampaikan dalam keterangan tersebut, jumlah titik panas terpantau jauh lebih banyak dibandingkan laporan yang diterima tim di lapangan,” katanya.

BPBD Halut juga mengimbau kepada masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun membuka kebun dengan cara membakar, terutama selama kondisi cuaca masih kering dan angin cukup kuat.

Petugas juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap September sebagai waktu yang aman untuk membakar lahan dengan alasan memasuki musim hujan pada Oktober. Pembakaran lahan tetap berisiko menyebabkan kebakaran meluas dan sulit dikendalikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....