Tiga Putri Malut Tuai Haru di Panggung MTQ Nasional, Angkat Isu Krisis Iklim
- 16 Sep 2026 17:40 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Semarang - Tepuk tangan dan sorot mata penonton mengiringi tiga peserta asal Maluku Utara ketika menuntaskan penampilan mereka di atas panggung. Sekitar 20 menit, ketiganya menyampaikan pesan tentang ancaman krisis iklim dan polusi global di hadapan dewan juri dan ratusan penonton.
Mereka adalah Nurul Izzah Muh. Zaber, Indriyani Kordi, dan Shawira S. Sardjan, peserta cabang Syarhil Qur’an regu putri Maluku Utara dengan nomor tampil 45 dalam MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah.
Penampilan mereka berlangsung di Gedung Prof. Sudarto, Universitas Diponegoro, Semarang, Rabu, 16 September 2026.
Mengusung judul “Gerakan Kolektif Menghadapi Krisis Iklim dan Polusi Global”, ketiganya membagi peran sebagai pembaca Al-Qur’an, saritilawah, dan pensyarah.
Nomor tampil terakhir tidak membuat mereka kehilangan kepercayaan diri. Sebaliknya, kesempatan menyaksikan peserta lain tampil lebih dulu menjadi bagian dari proses mereka mematangkan penampilan.
Di atas panggung, ketiganya tampil dalam satu irama. Pergantian peran, pembacaan ayat, saritilawah, hingga penyampaian syarahan dilakukan secara bergantian dan saling menguatkan.
Bagi mereka, Syarhil Qur’an bukan hanya tentang kemampuan menghafal dan menyampaikan materi. Ada pesan yang ingin dibawa kepada penonton: persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan bersama.

Shawira S. Sardjan mengatakan krisis iklim dan polusi udara merupakan ancaman lintas batas yang mempengaruhi kehidupan manusia dan ekosistem di berbagai wilayah.
Peningkatan emisi gas rumah kaca, degradasi tanah, hilangnya keanekaragaman hayati, serta dampak kesehatan akibat polusi udara, menurut dia, membutuhkan respons yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
“Pada tahun 2024 sampai 2025 ini, Indonesia resmi menetapkan status krisis iklim setelah suhu permukaan meningkat drastis, gelombang panas melanda berbagai wilayah, banjir bandang, udara yang tercemar, dan daya dukung alam semakin merosot,” ucap Shawira di atas panggung.
Pesan tersebut mereka kemas melalui perpaduan Al-Qur’an, saritilawah, dan syarahan. Isu yang dibawa pun terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: udara yang semakin tercemar, bencana hidrometeorologi, serta tekanan terhadap lingkungan.
Setelah sekitar 20 menit berada di atas panggung, ketiganya akhirnya turun dengan perasaan lega. Ketegangan yang mereka rasakan sebelum tampil perlahan berganti menjadi kebahagiaan.

Mereka telah melewati salah satu tahapan penting setelah menjalani latihan dan mempersiapkan materi untuk tampil di ajang nasional yang mempertemukan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
“Alhamdulillah senang, bahagia, terharu juga, deg-degan. Banyak latihan, banyak naskah baru,” ujar Nurul Izzah bersama kedua rekannya kepada rri.co.id, usai tampil.
Bagi ketiganya, penampilan tersebut bukan hanya tentang bagaimana dewan juri memberikan penilaian. Ada kepuasan tersendiri karena mampu menyelesaikan penampilan sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan.
Dukungan pelatih juga menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Ketegasan selama masa latihan, kata mereka, justru membantu membentuk kesiapan mental dan menjaga konsistensi penampilan ketika berada di atas panggung.
Momen haru kemudian terjadi sesaat setelah mereka meninggalkan panggung.
Pelatih yang telah menunggu di luar langsung memeluk ketiganya. Air mata kebanggaan pecah setelah melihat anak didiknya menyelesaikan penampilan terakhir dengan maksimal.
Pelukan itu kemudian disusul tim official dan para pelatih dari cabang lomba lainnya.
Di tengah persaingan MTQ Nasional, momen tersebut menjadi pengingat bahwa di balik penampilan beberapa menit di atas panggung, ada latihan panjang, naskah yang berulang kali dipelajari, ketegangan sebelum tampil, serta dukungan orang-orang yang mendampingi para peserta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....