Proaktif Kawal Keamanan Pangan MBG, BPOM Malut Diapresiasi BGN
- 08 Sep 2026 20:11 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Sofifi - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak cukup hanya memastikan makanan sampai ke tangan penerima manfaat. Di Maluku Utara, Balai POM di Sofifi memilih memperketat pengawasan sejak makanan belum diproduksi, menguji sampel pangan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebelum beroperasi.
Langkah preventif itu mendapat apresiasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) Perwakilan Provinsi Maluku Utara. Apresiasi disampaikan BGN Perwakilan Maluku Utara, Muhammad Ramli, saat berkunjung ke Kantor Balai POM di Sofifi, Selasa, 8 September 2026.
Kepala Balai POM di Sofifi, Ermanto Siahaan, mengatakan apresiasi tersebut menjadi dorongan bagi jajarannya untuk memperkuat pelayanan publik, terutama dalam pengawalan keamanan pangan pada program prioritas nasional tersebut.
“Penghargaan ini menjadi motivasi untuk meningkatkan pelayanan publik, terutama bagi petugas yang terlibat langsung dalam pelaksanaan program prioritas nasional,” ujar Ermanto kepada rri.co.id.
Pengawasan keamanan pangan MBG di Maluku Utara kini diarahkan agar tidak berhenti pada pemeriksaan setelah makanan beredar. Balai POM di Sofifi mendorong mitigasi risiko sejak pembangunan sarana dan prasarana dapur SPPG.
Salah satu instrumennya adalah pengujian sampel makanan sebelum SPPG mulai beroperasi. Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan pangan yang diproduksi memenuhi persyaratan keamanan sebelum dibagikan kepada penerima manfaat.
Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari pemenuhan persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sebagai bukti bahwa sarana pengelolaan pangan telah memenuhi ketentuan higiene dan sanitasi.
Pendekatan ini penting karena skala MBG menuntut sistem pengawasan yang tidak hanya mampu menemukan masalah, tetapi juga mencegah masalah sebelum terjadi.
“Jika ada indikasi kasus keracunan, kami berusaha merespons secepat mungkin dengan berkoordinasi bersama dinas kesehatan setempat,” kata Ermanto.
Laboratorium Sofifi Pangkas Ketergantungan ke Luar Daerah
Penguatan pengawasan juga ditopang pembenahan kapasitas laboratorium Balai POM di Sofifi. Sebelumnya, pengujian sampel SPPG dari Maluku Utara harus dilakukan di Manado atau Ambon.
Kondisi itu membuat proses pengujian membutuhkan waktu lebih panjang. Pengiriman sampel antardaerah juga membawa risiko kerusakan selama perjalanan dan menambah kebutuhan anggaran.
Kini, peningkatan kapasitas laboratorium di Sofifi memungkinkan pengujian sampel pihak ketiga dilakukan lebih dekat dengan sumbernya. Efisiensi waktu dan biaya menjadi keuntungan langsung, sekaligus memperkuat kemampuan pemerintah melakukan pengawasan pangan di wilayah kepulauan.
Bagi Maluku Utara, penguatan kapasitas lokal tersebut bukan sekadar soal laboratorium. Ini menyangkut kecepatan negara dalam memastikan makanan yang diproduksi untuk program MBG benar-benar aman sebelum dikonsumsi.
Di sisi lain, Balai POM di Sofifi menyiapkan respons apabila muncul dugaan kejadian keracunan pangan dalam pelaksanaan MBG.
Investigasi akan dilakukan secara proaktif dengan melibatkan lintas sektor. Balai POM berkoordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten dan kota serta instansi terkait untuk memperoleh informasi dan data secara cepat dan akurat.
Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah tindak lanjut, termasuk dalam penanganan dugaan kejadian keamanan pangan.
Pola ini membuat pengawasan MBG berjalan dalam dua lapis, mencegah risiko sebelum makanan disalurkan dan bergerak cepat ketika muncul indikasi masalah.
Keamanan pangan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberhasilan MBG. Makanan yang bergizi kehilangan manfaatnya jika tidak aman dikonsumsi.
Karena itu, Balai POM di Sofifi menyatakan akan terus memperkuat pengujian, pengawasan preventif, investigasi, dan koordinasi lintas sektor untuk memastikan pelaksanaan MBG di Maluku Utara berjalan aman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....