Operasi Modifikasi Cuaca Berakhir, Pemprov Malut Minta Diperpanjang

  • 08 Sep 2026 10:03 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Di apron Bandara Sultan Baabullah, pesawat Cessna Caravan 208 EX/PK-SNL siap siaga melanjutkan misi di hari terakhir. Dari perut burung besi milik PT Smart Cakrawala Aviation itu, satu ton garam semai terakhir akan ditaburkan ke membubungnya awan-awan tipis di langit Maluku Utara.

Seharusnya, tugas tim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) garapan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berakhir. Namun, di posko OMC, riak kecemasan belum juga reda.

Di dalam ruang rapat evaluasi, Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe menyampaikan kekeringan yang masih meluas di sejumlah wilayah. Di sekelilingnya duduk Sekprov Samsuddin A Kadir, Kepala Pelaksana BPBD Fehby Alting, serta utusan BNPB Farach Abdurachman Ronny. Keran air tanah di pemukiman warga mulai mengering, sumur-sumur warga berubah jadi lubang debu, dan api menyerap rumpun-rumpun vegetasi hutan.

“Kalau ditanya apakah operasi ini diperpanjang? Jawabannya: kami sangat butuh perpanjangan,” kata Sarbin kepada rri.co.id usai rapat.

Suara Sarbin menyimpan kegelisahan ribuan warga. Kekeringan di bumi Moloku Kie Raha ini bukan lagi sekadar urusan memadamkan jelaga kebakaran hutan, melainkan soal piring nasi dan tenggorokan yang haus. Petani kelapa dan pala gigit jari, ternak warga kehabisan pasokan air, hingga truk-truk air bersih kini jadi pemandangan saban hari di area pemukiman.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara kini berharap uluran tangan dari Jakarta. Mereka memohon agar BNPB menambah napas operasi modifikasi cuaca setidaknya empat hari hingga satu minggu ke depan.

Harapan itu bukan tanpa alasan teknis. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah, Desindra Deddy Kurniawan, menyebut ada celah tipis di langit yang bisa dimanfaatkan. Padahal, secara teoritis, September adalah puncak musim kemarau di Maluku Utara - periode di mana awan kerap enggan singgah.

Namun, data BMKG merekam kelembapan udara di lapisan atas atmosfer Maluku Utara masih berada di angka yang menjanjikan, berkisar antara 60 hingga 100 persen.

“Itu kuncinya. Kalau kelembapan udara mencukupi, atmosfer masih bisa kita 'intervensi' untuk menurunkan hujan,” ujar Desindra.

Siasat menolak kemarau ini terbukti mujarab dalam durasi pendek. Sejak sorti pertama diterbangkan pada Sabtu, 5 September, guyuran hujan buatan berhasil dijatuhkan di Pulau Morotai, Halmahera Barat, Halmahera Timur, hingga Halmahera Tengah. Awan yang tadinya hanya melintas pasif, dipaksa luruh menjadi bulir-bulir air.

Bagi tim BMKG dan BNPB, keberhasilan empat hari kemarin adalah bukti bahwa langit Maluku Utara belum sepenuhnya mati. Di atas sana, potensi awan hujan masih terus merayap. Kini, nasib basahnya bumi Halmahera bergantung pada keputusan di Jakarta, membiarkan armada semai pulang, atau terus memburu awan demi warga yang dahaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....