Tokoh NU Malut Apresiasi Pemilihan Ketua Umum PBNU dengan Pola AHWA
- 30 Agt 2026 10:20 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Maluku Utara, Abubakar Abdullah, mengapresiasi keputusan Muktamar NU yang memilih mekanisme Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Abubakar menilai penggunaan mekanisme AHWA tidak dapat dimaknai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap prinsip demokrasi. Menurut dia, mekanisme tersebut justru merupakan bagian dari tradisi musyawarah yang selama ini menjadi salah satu karakter NU.
“AHWA justru lebih bermartabat. Demokrasi tidak selalu harus dimaknai sebagai pertarungan suara. Dalam tradisi NU, musyawarah dan penghormatan terhadap ulama juga merupakan bagian dari demokrasi,” ujar Abubakar kepada rri.co.id, Minggu 30 Agustus 2026.
Ia mengatakan mekanisme AHWA bukan sesuatu yang baru dalam perjalanan organisasi NU. Pola tersebut pernah digunakan dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada 1984.
Menurut Abubakar, pengalaman historis tersebut menunjukkan bahwa AHWA memiliki akar yang kuat dalam tradisi pengambilan keputusan di lingkungan NU.
Ia berharap penerapan mekanisme AHWA dalam pemilihan Ketua Umum PBNU dapat meredam potensi polarisasi di internal organisasi. Menurut dia, proses pemilihan tidak seharusnya meninggalkan sekat antara kelompok yang mendukung kandidat tertentu.
“Setelah Muktamar, tidak ada lagi kelompok yang menang atau kalah. Semua harus kembali bersinergi. Energi besar NU harus diarahkan untuk kepentingan umat, bangsa, dan kemanusiaan,” katanya.
Abubakar menilai persatuan setelah Muktamar menjadi hal penting agar NU dapat kembali memusatkan perhatian pada agenda keumatan dan kebangsaan. Mekanisme pemilihan, kata dia, semestinya menjadi bagian dari upaya menjaga marwah organisasi, bukan justru memperlebar perbedaan di antara para muktamirin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....