Resmikan Layanan Jantung, Sherly Berkaca-kaca: Kesempatan Hidup Tak Boleh Beda

  • 29 Agt 2026 09:28 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengatakan pemerintah daerah harus memastikan masyarakat di wilayah kepulauan mendapatkan akses layanan kesehatan dengan kualitas yang setara. Komitmen itu diwujudkan melalui percepatan pembangunan Gedung Pelayanan Jantung Terpadu RSUD Chasan Boesoirie Ternate.

Gedung tersebut mulai dibangun pada 2023. Adapun seluruh peralatan medis untuk mendukung pelayanan jantung merupakan bantuan dari Kementerian Kesehatan.

Sherly mengatakan pembenahan RSUD Chasan Boesoirie menjadi salah satu agenda yang dipercepat sejak dia dilantik sebagai Gubernur Maluku Utara pada Februari 2025. Selain mempercepat pembangunan gedung pelayanan jantung terpadu, pemerintah provinsi melakukan reformasi di tubuh rumah sakit serta perbaikan sejumlah fasilitas.

Menurut Sherly, pembangunan fasilitas kesehatan tidak semata-mata mengenai penyediaan gedung dan peralatan medis. Lebih dari itu, pemerintah harus memastikan masyarakat di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

“Negara hadir memastikan seluruh masyarakat Maluku Utara mendapatkan akses kesehatan, kesempatan hidup yang sama, mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik dengan kualitas yang sama di seluruh wilayah Republik Indonesia,” kata Sherly saat peresmian Gedung Pelayanan Jantung Terpadu, Jumat, 28 Agustus 2026.

Sherly mengatakan kesempatan seseorang untuk mendapatkan layanan medis terbaik tidak boleh ditentukan oleh tempat kelahirannya. Karena itu, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kabupaten dan kota harus membangun sistem kesehatan yang mampu menjangkau seluruh masyarakat.

“Kesempatan untuk hidup, kesempatan untuk mendapatkan medis terbaik tidak ditentukan oleh di mana yang bersangkutan lahir,” ujarnya.

Komitmen Sherly memperkuat layanan kesehatan di Maluku Utara juga dipengaruhi pengalaman pribadi. Suaminya, almarhum Benny Laos, meninggal setelah mengalami kecelakaan speedboat di Pulau Taliabu. Dalam insiden tersebut, Sherly juga menjadi korban dan harus dievakuasi melalui Sulawesi Tenggara menuju Jakarta untuk mendapatkan perawatan.

Sherly mengatakan pengalaman itu membuatnya melihat secara langsung persoalan keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah kepulauan. Dia mengaku memahami bahwa hidup dan kematian merupakan takdir, tetapi kualitas pelayanan kesehatan tetap menjadi faktor penting ketika seseorang membutuhkan pertolongan medis.

“Saya tahu bahwa takdir dan masa hidup adalah milik Sang Pencipta. Tetapi saya melihat langsung bagaimana pelayanan kesehatan yang kurang optimal bisa membuat seorang suami, seorang ayah, seorang anggota keluarga yang kita sayangi tidak kembali lagi ke keluarga,” kata Sherly dengan suara bergetar.

Sherly mengatakan masyarakat tidak perlu mengalami pengalaman serupa untuk menyadari pentingnya pemerataan layanan kesehatan. Menurut dia, para pemangku kebijakan memiliki kesempatan untuk memperbaiki sistem kesehatan selama masih diberi kewenangan dan kemampuan untuk mengambil keputusan.

“Selagi diberikan kesempatan oleh Sang Pencipta ada di posisi pengambil kebijakan, posisi memberi anggaran, posisi mempunyai kapasitas, punya ilmu, punya keahlian, mari kita berpegangan tangan sebagai seluruh stakeholder bekerjasama untuk menghasilkan sebuah sistem yang cepat, tepat, berkapasitas,” ujarnya.

Dia berharap penguatan fasilitas kesehatan di Maluku Utara tidak berhenti pada layanan jantung. Sistem kesehatan di setiap kabupaten dan kota harus mampu menangani berbagai kondisi kegawatdaruratan, mulai dari serangan jantung, kelahiran prematur, gagal ginjal hingga kecelakaan.

“Ketika ada serangan jantung, ketika ada lahir prematur, ketika ada gagal ginjal, ketika ada kecelakaan, kita punya suatu sistem kesehatan yang sama di seluruh kabupaten/kota se-Maluku Utara untuk memastikan mereka mendapatkan pelayanan medis terbaik sehingga mereka bisa pulang ke keluarganya,” kata dia.

Menurut Sherly, tujuan akhir dari pembangunan layanan kesehatan adalah memastikan pasien memiliki kesempatan untuk kembali berkumpul dengan keluarganya.

“Seorang ayah, seorang ibu, seorang istri, seorang suami, kakak, adik bisa kembali ke rumahnya bertemu dengan keluarga masing-masing,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....