Kibarkan Merah Putih di Pulau Terpencil, Kadikbud Malut Jadi Irup di Pulau Rao
- 17 Agt 2026 12:31 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Morotai - Di tengah hamparan laut dan keterbatasan akses transportasi, Merah Putih berkibar di halaman SMA Kristen Posi-Posi Rao, Pulau Rao, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Senin 17 Agustus 2026.
Di tempat yang jauh dari pusat pemerintahan itu, para pelajar dari tingkat SD, SMP hingga SMA berdiri tegak mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, bertindak sebagai inspektur upacara.
Upacara tersebut juga diikuti para guru serta jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara bersama Cabang Dinas Pendidikan Pulau Morotai.
Kehadiran Kadikbud di Pulau Rao bukan sekadar agenda seremonial. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos agar jajaran pemerintah, khususnya sektor pendidikan, hadir langsung dan membersamai para pelajar di wilayah terpencil pada momentum peringatan kemerdekaan.
“Kami ingin anak-anak di pulau terpencil merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Negara hadir dan pemerintah hadir bersama mereka,” kata Abubakar.
Menempuh Laut Demi Pendidikan

Perjalanan menuju SMA Kristen Posi-Posi Rau menjadi gambaran tersendiri mengenai tantangan pendidikan di wilayah kepulauan Maluku Utara.
Dari Sofifi, rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menuju Tobelo dan kemudian Daruba, ibu kota Kabupaten Pulau Morotai. Perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Wasbula, Kecamatan Morotai Selatan Barat, yang ditempuh sekitar 1,5 jam.
Dari Wasbula, perjalanan belum berakhir. Rombongan harus melanjutkan perjalanan menggunakan perahu menuju Posi-Posi Rau.
Jarak geografis dan kondisi wilayah kepulauan juga menjadi bagian dari keseharian para siswa SMA Kristen Posi-Posi Rau. Sekolah tersebut tidak hanya menampung pelajar dari wilayah setempat, tetapi juga siswa dari pulau-pulau tetangga, termasuk Saminyamau.
Untuk sampai ke sekolah, sebagian siswa harus menyeberangi laut menggunakan perahu. Ada yang diantar orang tua, sementara sebagian lainnya bahkan harus mendayung sendiri.
“Bagi mereka, pergi ke sekolah bukan perkara sederhana. Mereka harus menyeberangi laut. Tetapi semangat mereka untuk belajar tidak pernah surut,” ujar Abubakar.
Kisah itu memperlihatkan bahwa bagi sebagian anak di wilayah kepulauan, perjalanan menuju sekolah bukan hanya soal jarak. Ada laut yang harus dilalui, cuaca yang harus dihadapi, serta keterbatasan akses yang menjadi bagian dari perjuangan mereka mendapatkan pendidikan.
Merah Putih dan Nasionalisme di Ujung Pulau

Menurut Abubakar, yang mulai dikenal di kalangan guru dengan sapaan Guru Aka, pelaksanaan upacara kemerdekaan di wilayah terpencil memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan seremonial.
Kehadiran pemerintah di tengah para pelajar menjadi bagian dari upaya menanamkan nasionalisme sekaligus memastikan anak-anak di wilayah kepulauan merasakan kehadiran negara.
“Di pulau terpencil kita kibarkan Merah Putih, di sekolah kita tanamkan nasionalisme,” kata mantan Ketua KNPI Maluku Utara itu.
Ia menegaskan, keterpencilan geografis tidak boleh membuat anak-anak di pulau-pulau kecil merasa jauh dari Indonesia.
“Laut boleh memisahkan pulau, tetapi tidak boleh memisahkan cita-cita anak-anak Indonesia,” ujarnya.
Menurut Abubakar, anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan mengembangkan potensi mereka. Karena itu, pemerataan layanan pendidikan harus menjangkau seluruh wilayah, termasuk pulau-pulau terpencil.
Kehadiran rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara di Pulau Rao juga tidak hanya membawa pesan kebangsaan.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan membawa bantuan komputer dari Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos untuk SMA Kristen Posi-Posi Rau dan SMA BPD Leo Leo.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran sekaligus memperluas akses siswa terhadap teknologi dan informasi.
“Kami datang bukan hanya untuk upacara. Kami ingin melihat langsung kondisi sekolah, mendengar kebutuhan anak-anak dan guru, serta membawa dukungan yang bisa membantu proses pembelajaran,” kata Abubakar.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Pulau Rao. Kehadiran pemerintah dinilai memberikan pesan penting bagi masyarakat di wilayah terpencil bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berpusat di wilayah perkotaan.
Di halaman SMA Kristen Posi-Posi Rau, Merah Putih pun berkibar di tengah laut dan keterbatasan akses.
Bagi para pelajar di pulau tersebut, upacara kemerdekaan bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan bangsa. Kibaran Merah Putih menjadi penegasan bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia, sekaligus pengingat bahwa masa depan mereka juga memiliki ruang yang sama untuk diperjuangkan.
Di pulau terpencil, di antara laut dan perahu, anak-anak Indonesia tetap berdiri tegak: belajar, bermimpi, dan menjaga Merah Putih.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....