Verifikasi WBTb Sigofi Ngolo Jadi Langkah Penting Pelestarian Budaya Bahari

  • 05 Jun 2026 18:58 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate – Tradisi adat Sigofi Ngolo dari Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, selangkah lebih dekat menuju pengakuan nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia setelah menjalani proses verifikasi oleh Tim Ahli WBTb Indonesia, Jumat 5 Juni 2026.

Verifikasi tersebut menjadi tahapan krusial dalam upaya pelestarian salah satu tradisi bahari khas Kesultanan Jailolo yang selama ini diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pesisir di Teluk Jailolo.

Sigofi Ngolo bukan sekadar ritual membersihkan laut. Tradisi ini mengandung nilai spiritual, sosial, dan ekologis yang kuat. Masyarakat meyakini ritual tersebut sebagai bentuk penyucian diri, penghormatan kepada alam dan leluhur, serta penanda dimulainya berbagai agenda budaya daerah, termasuk Festival Teluk Jailolo.

Prosesi Sigofi Ngolo dilakukan dengan mengelilingi Pulau Babua menggunakan perahu adat. Dalam ritual itu, tokoh adat, masyarakat, dan perwakilan Kesultanan Jailolo memanjatkan doa-doa tradisional serta menaburkan bunga sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur.

Ketua Tim Verifikasi WBTb Indonesia, Assoc Prof Dr M. Alfan Alfian Mahyudin, mengatakan proses penilaian mencakup berbagai aspek, mulai dari keaslian tradisi, nilai filosofis, fungsi sosial, hingga keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan budaya tersebut.

Tim verifikasi juga mendengarkan paparan dari maestro budaya, tokoh adat, budayawan, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Hasil verifikasi akan menjadi dasar untuk menentukan kelayakan Sigofi Ngolo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, berharap proses verifikasi berjalan lancar sehingga Sigofi Ngolo dapat segera memperoleh status WBTb Indonesia.

Menurutnya, pengakuan tersebut penting untuk memastikan tradisi tetap lestari di tengah perubahan zaman, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah dan memperkenalkan warisan Kesultanan Jailolo kepada masyarakat nasional maupun dunia internasional.

Kunjungan tim verifikasi dari Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan didampingi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI Maluku Utara. Kehadiran mereka disambut jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, Sultan Jailolo beserta perangkat adat, serta civitas akademika SMA Negeri 1 Halmahera Barat di Kedaton Jiko Makolano, Jailolo.

Dalam penyambutan tersebut, tim verifikasi disuguhi penampilan Tari Sogili yang dibawakan siswa SMA Negeri 1 Halmahera Barat. Tari tersebut juga merupakan salah satu karya budaya yang diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun ini.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Penyiapan Dokumen Naskah Akademik dan Video Dokumenter Bidang Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Lusi Susanti Bahar, menjelaskan bahwa mekanisme penilaian usulan WBTb tahun 2026 mengalami sejumlah perubahan.

Menurut dia, hasil evaluasi kini dibagi dalam empat kategori, yakni dilanjutkan, perbaikan minor, perbaikan mayor, dan verifikasi. Karena itu, pemerintah kabupaten dan kota yang mengusulkan karya budaya diminta segera menindaklanjuti catatan perbaikan yang telah disampaikan sesuai tenggat waktu yang ditetapkan.

Di sisi lain, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Darwin A. Rahman, mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 Maluku Utara mengusulkan 26 karya budaya untuk ditetapkan sebagai WBTb Indonesia.

Usulan tersebut berasal dari empat kabupaten/kota, yakni Kota Tidore Kepulauan, Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, dan Halmahera Utara. Berbagai tradisi, tarian, bahasa daerah, hingga kuliner khas masuk dalam daftar usulan, menunjukkan kekayaan budaya Maluku Utara yang terus didorong untuk mendapatkan pengakuan nasional.

Jika Sigofi Ngolo berhasil ditetapkan sebagai WBTb Indonesia, tradisi ini tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya masyarakat Jailolo, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....