Bank Indonesia Pastikan Lakukan Stabilitas Rupiah di tengah Tekanan Global

  • 20 Mei 2026 17:41 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dipengaruhi berbagai tekanan global dan faktor domestik yang terjadi secara bersamaan dalam beberapa waktu terakhir. Meski demikian, Bank Indonesia memastikan terus melakukan langkah stabilisasi guna menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Handi Susila mengatakan, tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang.

“Pelemahan rupiah memang dipengaruhi kondisi global. Terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan tekanan eksternal lainnya,” kata Handi Susila, saat dikonfirmasi Rabu, 20 Mei 2026.

Selain faktor global, Handi menjelaskan, terdapat sejumlah faktor domestik yang bersifat musiman dan turut meningkatkan kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Di antaranya pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, hingga meningkatnya kebutuhan dolar selama musim haji.

Menurutnya, peningkatan permintaan dolar tersebut menyebabkan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Namun kondisi itu dinilai masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan melalui kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia. Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di berbagai instrumen pasar keuangan, baik di pasar Non Deliverable Forward (NDF) maupun pasar spot.

Selain itu, BI juga memperkuat daya tarik aliran modal masuk melalui penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). “Intervensi terus kami lakukan. Kami optimistis ke depan rupiah akan kembali menguat secara bertahap,” ujarnya.

Bank Indonesia juga menerapkan kebijakan pembatasan transaksi jual beli valuta asing guna menjaga stabilitas pasar. Jika sebelumnya batas transaksi tertentu berada di angka $50.000, kini diturunkan menjadi $25.000 untuk memperketat pengawasan transaksi valas. Meski demikian, Handi menegaskan, masyarakat maupun pelaku usaha yang memiliki kebutuhan valuta asing dalam jumlah besar tetap dapat melakukan transaksi sepanjang memiliki underlying atau dokumen pendukung yang jelas.

Sementara, terkait dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi di Maluku Utara, Handi menilai pengaruhnya masih relatif kecil. Hal itu karena komoditas penyumbang inflasi di daerah ini mayoritas bukan berasal dari barang impor. “Secara langsung dampaknya terhadap inflasi di Maluku Utara masih minim, karena kebutuhan konsumsi masyarakat tidak banyak bergantung pada komoditas impor,” kata Handi.

Senada, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Fadhil Muhammad menambahkan, pihaknya masih terus mencermati pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap inflasi di Maluku Utara. Meski demikian, inflasi di tingkat nasional maupun daerah dinilai masih relatif terkendali.

Menurutnya, dampak fluktuasi kurs terhadap inflasi juga dipengaruhi karakteristik masing-masing daerah. Di Maluku Utara, komoditas pangan seperti ikan dan bawang masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan inflasi.

Fadhil menambahkan, pengaruh pelemahan rupiah terhadap inflasi biasanya terjadi dalam periode tertentu sehingga perlu pemantauan lebih lanjut. Karena itu, Bank Indonesia bersama pemerintah akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Diketahui, berdasarkan perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.743 per dolar Amerika Serikat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....