MSI Malut: RRI Ternate sebagai Infrastruktur Kebudayaan

  • 29 Apr 2026 14:19 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate – Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Maluku Utara, Syahril Muhammad, menilai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Ternate turut berperan penting dalam memajukan kebudayaan di Maluku Utara.

Menurut Syahril, RRI Ternate konsisten merekam dan menyiarkan ekspresi budaya Kie Raha secara utuh, mulai dari musik tradisional Tide-Tide, tarian Cakalele dan Soya-Soya, ritual Kololi Kie, hingga bahasa daerah seperti Ternate, Tidore, Galela, dan Tobelo.

“Rekaman ini menjadi arsip negara yang dapat diakses publik, sekaligus mencegah warisan lisan hilang bersama penuturnya,” kata Syahril, Rabu 29 April 2026.

Ia menambahkan, melalui berbagai program, khususnya di Pro 4 RRI, ruang terbuka bagi sanggar seni, pelajar, dan komunitas adat untuk tampil. Tradisi tidak hanya dikenang, tetapi juga dipraktikkan dan diciptakan kembali oleh generasi muda. “Dialog interaktif menghadirkan budayawan, akademisi, tokoh adat, dan pemerintah dalam satu frekuensi. Isu seperti pelestarian bahasa ibu, makna ritual adat, hingga kearifan lokal dalam mitigasi bencana dibahas dengan bahasa publik yang mudah dipahami,” ujarnya.

Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) ini menegaskan, RRI menjadi simpul jejaring antara kesultanan, komunitas, sekolah, dan instansi pemerintah. Peran itu terlihat melalui siaran langsung musyawarah adat, liputan festival, hingga fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan budaya. “Di Maluku Utara, jarak geografis sering menjadi sekat budaya. RRI Ternate meruntuhkan sekat itu melalui gelombang AM/FM yang menjangkau pulau-pulau terluar,” katanya.

Ia juga menilai, di tengah arus globalisasi, siaran berbahasa daerah mampu mengingatkan generasi muda bahwa jati diri budaya tetap relevan. RRI memberi ruang bagi suara lokal untuk menafsirkan kebijakan, bukan sekadar menerima.

Syahril menekankan, RRI tidak mengejar popularitas semata. Dengan standar jurnalistik dan amanat publik, konten budaya disiarkan secara utuh dengan menjaga adab dan konteks.

“RRI bukan sekadar radio, tetapi infrastruktur kebudayaan. Tempat tradisi didokumentasikan, dihidupkan, diajarkan, dan diperjuangkan,” ucapnya.

Ia berharap pemerintah turut memperkuat peran RRI melalui kebijakan yang berkelanjutan. Menurutnya, penguatan kebudayaan tidak cukup melalui festival tahunan, tetapi membutuhkan perhatian yang konsisten. “Sebagai lembaga penyiaran publik, Pro 4 RRI Ternate memegang fungsi strategis sebagai ruang budaya di udara bagi warisan tak benda Maluku Utara,” kata Sahril, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....