Mitigasi Bencana di Musim Peralihan, BMKG Imbau Warga Maluku Utara Waspada
- 28 Apr 2026 09:24 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Memasuki masa peralihan dari musim hujan ke kemarau, masyarakat di wilayah Ternate dan sekitarnya diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, Desindra Dedi Kurniawan, dalam dialog interaktif di Pro 1 RRI Ternate pada Senin, 27 April 2026.
Dalam beberapa pekan terakhir, kondisi cuaca di Maluku Utara terasa lebih panas dari biasanya. Langit yang cerah tanpa tutupan awan menyebabkan radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi secara maksimal, sehingga suhu terasa terik sejak pagi hingga sore hari. “Ini merupakan ciri khas masa transisi atau pancaroba. Walaupun secara klimatologis April hingga Mei masih memiliki curah hujan, namun faktor global seperti El Niño mulai berpengaruh,” kata Desindra.
Menurut BMKG, saat ini fenomena El Nino berada pada kategori lemah, namun berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini menyebabkan uap air berpindah ke wilayah Samudra Pasifik, sehingga wilayah Indonesia, khususnya bagian timur, berpotensi mengalami penurunan curah hujan. “Jika intensitas El Nino meningkat, maka kekeringan bisa lebih panjang dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga meluruskan istilah “El Nino Godzilla” yang sempat viral di media sosial. Menurutnya, istilah tersebut bukan terminologi resmi dalam klimatologi, melainkan hanya istilah populer untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat seperti yang terjadi pada tahun 2015.
Meski cuaca cenderung panas, hujan lokal masih dapat terjadi, terutama pada sore atau malam hari. Hal ini dipengaruhi faktor lokal seperti kondisi topografi wilayah Gunung Gamalama yang memicu pembentukan awan melalui proses orografis. “Awan terbentuk karena massa udara dipaksa naik saat melewati pegunungan, kemudian mengalami kondensasi dan turun sebagai hujan. Namun sifatnya lokal dan tidak merata.
Pada masa pancaroba, kondisi atmosfer cenderung tidak stabil. Hal ini dapat memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang, petir, hingga potensi hujan es. BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada meskipun cuaca tampak cerah di pagi hari.
Seiring berkurangnya curah hujan menuju musim kemarau yang diprediksi mulai Juni, risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat. Berkaca dari kejadian tahun 2015 di wilayah Batu Angus, kebakaran lahan sempat meluas dan sulit dipadamkan. Untuk itu, masyarakat diimbau:
- Tidak membuka lahan dengan cara membakar
- Tidak membakar sampah sembarangan
- Tidak membuang puntung rokok di area kering
- Aktif memantau informasi cuaca dari BMKG
“Pencegahan jauh lebih penting. Kebakaran tidak hanya dipicu faktor alam, tapi juga aktivitas manusia,” ucap Desindra.
Terkait kondisi perairan, BMKG menyebut tinggi gelombang di wilayah Maluku Utara masih dalam kategori aman, yakni berkisar 0,5 hingga 1 meter. Namun nelayan tetap diminta waspada terhadap perubahan angin yang dapat memicu gelombang tinggi secara tiba-tiba.
Selain potensi bencana, masyarakat juga diminta menjaga kondisi kesehatan. Perubahan cuaca yang cepat dari panas ke hujan dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memicu penyakit seperti flu. “Perbanyak minum air putih, olahraga, dan gunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....