Program Sekolah Menanam Kadikbud Malut Cetak Petani Milenial

  • 22 Feb 2026 18:00 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Gagasan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara, Dr. Abubakar Abdullah, untuk menggerakkan sekolah menanam bibit hortikultura di lahan seluas 10,5 hektar mendapat apresiasi tinggi. Program ini tidak sekadar mengajarkan menanam, tetapi membentuk generasi milenial menjadi wirausahawan pertanian mandiri dengan sentuhan teknologi digital.

Asisten I Setda Maluku Utara, Kadri Laetje menyambut positif inovasi yang menggabungkan konsep pertanian konvensional dengan digital farming. Harapannya, program ini tidak hanya berkutat di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), namun segera diekspansi ke jenjang SMA Negeri dan Swasta.

"Ini bukan hanya sekadar mendidik generasi untuk menanam bibit, tapi membentuk generasi milenial untuk menanam jiwa entrepreneur pertanian masa depan," ujar Asisten I dalam keterangannya, kepada rri.co.id, Minggu 22 Februari 2026.

Program ini hadir sebagai jawaban atas fluktuasi harga hortikultura yang kerap mewarnai angka inflasi. Harga cabai dan bawang merah yang melonjak hingga Rp70.000 per kilogram terutama jelang bulan puasa menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Dengan luasan 10,5 hektar, potensi produksi cabai mencapai 100 ton per musim tanam, mengasumsikan hasil rata-rata 8-12 ton per hektar dengan penerapan teknologi pertanian modern, varietas unggul, dan pengelolaan unsur hara yang tepat.

"Jika harga jual Rp30.000-Rp50.000 per kilogram, berapa hasilnya? Hitung sendiri," kata Asisten I, menegaskan prospek ekonomi yang menggiurkan dari program ini.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi Dinas Pertanian dan Balai Teknis. Keduanya diharapkan mendampingi siswa mulai dari tahap pemupukan tanah, persemaian, penanaman, hingga panen menyeluruh dari pra-panen hingga pasca-panen.

Lebih jauh, program ini bertujuan mencetak Garden School modern di SMK dan SMA. Siswa tidak hanya belajar bertani secara konvensional, tetapi juga diperkenalkan dengan konsep digital farming. Integrasi teknologi dalam pertanian diharapkan meningkatkan efisiensi dan daya saing produk siswa di pasar.

Strategi penanaman paralel dan panen parsial menjadi kunci keberlanjutan program. Hasil panen tidak hanya dipasok ke pasar tradisional, tetapi juga masyarakat lingkar sekolah, sektor tambang, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Tentu menjanjikan ke depan. The best buat gagasan Kadis Pendidikan, semoga tumbuh di semua sekolah, membentuk generasi sekolah mandiri kebun digital farming," kata manta Pjs. Bupati Halsel ini.

Dengan model ini, pemerintah daerah optimistis mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang mandiri secara ekonomi sekaligus berkontribusi nyata pada ketahanan pangan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....