Balai Bahasa Malut Gelar Bimtek Penulisan Cerita Anak
- 11 Feb 2026 12:38 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Ternate - Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Cerita Anak Dwibahasa (Bahasa Daerah Maluku Utara–Bahasa Indonesia) selama tiga hari, mulai Rabu, 11 Februari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Kie Raha 5, Hotel Muara, Kota Ternate, dan menjadi ruang kreatif bagi para penulis untuk mengangkat kekayaan bahasa lokal ke dalam bacaan anak.
Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, Nurul Istiqamallah, menjelaskan bahwa bimtek ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam menulis cerita anak yang berkualitas. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya strategis melestarikan bahasa dan budaya lokal melalui bahan bacaan literasi berbasis kearifan lokal.
“Melalui bimtek ini, kami berharap peserta mampu menghasilkan cerita anak yang tidak hanya menarik, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya daerah. Nantinya, karya-karya tersebut akan diterbitkan dalam bentuk buku,” ujar Nurul.
Pada 2026, sebanyak 29 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini dengan latar belakang bahasa daerah yang beragam. Mereka mewakili bahasa Ternate, Ternate dialek Tidore, Bacan, Patani, Galela, Sula, hingga Makian Dalam, yang memperkaya warna dan perspektif cerita yang akan dihasilkan.
Nurul berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan optimal sehingga mampu melahirkan karya yang layak terbit. Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan buku bacaan anak yang tidak hanya edukatif, tetapi juga dekat dengan keseharian dan budaya setempat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Muslim Gani, menilai bimtek penulisan cerita anak dwibahasa ini sangat penting untuk memperkaya referensi bacaan anak di sekolah. Menurutnya, kegiatan ini sekaligus membuka wawasan guru tentang teknik penulisan buku cerita anak yang sesuai dengan jenjang usia pembaca.
“Kegiatan ini menambah referensi bahan bacaan anak-anak di sekolah. Selain itu, guru-guru juga mendapatkan wawasan tentang penulisan buku cerita anak berdasarkan jenjang usia tertentu,” kata Muslim.
Ia menambahkan, melalui buku cerita anak berbasis bahasa daerah, nilai-nilai kearifan lokal dapat ditanamkan sejak dini kepada peserta didik. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya gemar membaca, tetapi juga semakin mengenal jati diri dan identitas kedaerahan mereka.
Muslim berharap buku cerita anak dwibahasa yang dihasilkan dari bimtek ini dapat dimanfaatkan secara optimal di sekolah. Terutama dalam mendukung pengembangan dan pembelajaran bahasa daerah, khususnya bahasa Ternate, agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa bahasa Ternate telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda. Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu mengambil langkah konkret agar bahasa daerah diajarkan secara berkelanjutan di seluruh jenjang pendidikan, tidak hanya di tingkat sekolah dasar.
“Implementasi dari penetapan tersebut harus diwujudkan melalui kebijakan dan praktik pembelajaran di sekolah. Bahasa daerah perlu diajarkan di semua jenjang pendidikan,” kata Muslim Gani, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....