Yang Suka Begadang, Hati-Hati!

  • 22 Mar 2026 14:55 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate- Kebiasaan terjaga atau tidak tidur hingga larut malam, sering kali karena tuntutan kerja, tugas, atau gaya hidup. Kebiasaan ini berdampak negatif pada kesehatan, seperti menurunkan daya tahan tubuh, memicu obesitas, mengganggu fokus, dan meningkatkan risiko hipertensi serta penyakit jantung.

Satu peringatan untuk kita semua, ternyata kebiasaan tidur hingga larut malam tersebut, diam - diam bisa merusak otak, jantung dan sistem imun kita. di lansir dari laman resmi ayosehat.kemkes.go.id di jelaskan beberapa bahaya yang mengintai kita :

Kurang tidur memukul area yang paling sering kita andalkan untuk “menjadi manusia dewasa”: korteks prefrontal. Ini pusat fokus, kontrol emosi, perencanaan, penilaian risiko, dan kemampuan menahan impuls. Saat tidur dipotong, aktivitas prefrontal turun. Akibatnya terasa sangat sehari-hari: sulit konsentrasi, mudah terdistraksi, keputusan cepat tapi ceroboh, emosi pendek, respons berlebihan.

Di sisi lain, amigdala—pusat alarm emosi—cenderung lebih reaktif. Ketika “rem” dari prefrontal melemah, amigdala mengambil alih panggung. Itulah sebabnya orang kurang tidur sering lebih sensitif, lebih mudah tersinggung, dan lebih cepat “meledak” pada hal kecil. Bukan karena karakter memburuk, tetapi karena jaringan pengatur emosi sedang pincang.

Lalu ada dampak yang lebih senyap: memori. Tidur, terutama tidur gelombang lambat dan fase REM, adalah waktu otak menyusun arsip—menguatkan informasi penting, membuang yang tidak relevan, menyatukan pengalaman menjadi pelajaran. Begadang membuat proses konsolidasi memori ini terganggu. Anda bisa belajar lebih lama, tetapi menyerap lebih buruk. Anda bisa bekerja lebih lama, tetapi kualitas keputusan turun.

Saat tidur nyenyak, otak menyalakan sistem pembersihan yang disebut sistem glimfatik. Sederhananya, ini jalur pembuangan “sampah metabolik” yang menumpuk selama kita terjaga. Salah satu yang sering dibicarakan adalah beta-amiloid—protein yang terkait dengan Alzheimer.

Jika tidur dipersingkat, jam pembersihan terpotong. Bukan berarti satu malam begadang langsung memicu demensia, tetapi pola kronis membuat “sampah” lebih mudah menumpuk, dan beban biologisnya menjadi akumulatif. Otak adalah organ yang sangat mahal secara energi. Ia tidak suka berutang, tetapi ia bisa dipaksa. Dan utang itu suatu hari ditagih.

Begadang bukan hanya persoalan kelopak mata berat. Satu malam tanpa tidur saja dapat mengubah aktivitas ratusan gen—gen terkait metabolisme, peradangan, respons imun, dan stres oksidatif. Artinya, kurang tidur mengubah cara sel membaca instruksi hidupnya.

Di hippocampus—wilayah penting untuk memori—kurang tidur kronis dalam studi hewan dikaitkan dengan penurunan BDNF (brain-derived neurotrophic factor), protein yang membantu neuron bertahan, tumbuh, dan membentuk koneksi baru. BDNF adalah “pupuk” bagi plastisitas otak. Ketika ia turun, belajar terasa lebih berat, memori lebih rapuh, dan adaptasi mental melambat.

Pada saat yang sama, stres oksidatif meningkat. Radikal bebas menjadi lebih “liar”, sementara sistem perbaikan dan antioksidan tidak mendapat jam kerja yang cukup. Ini seperti mesin yang dipaksa terus menyala, tetapi bengkel perawatannya ditutup.

Kurang tidur menurunkan sensitivitas insulin. Sel menjadi kurang responsif terhadap insulin, gula darah lebih mudah naik, dan tubuh dipaksa bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan. Bahkan pembatasan tidur beberapa malam saja dalam studi laboratorium bisa menurunkan sensitivitas insulin secara bermakna, termasuk pada jaringan lemak—level yang biasanya tampak pada kondisi obesitas atau pradiabetes.

Jika pola ini berulang, “gangguan sementara” berubah menjadi lintasan menuju resistensi insulin dan diabetes tipe 2. Ini sebabnya tidur sering disebut pilar metabolik, sejajar dengan makan dan aktivitas fisik. Tanpa tidur yang cukup, dua pilar lain pun jadi lebih sulit ditegakkan.

Pada tidur normal, tekanan darah turun alami di malam hari, disebut nocturnal dipping. Ini adalah waktu istirahat bagi pembuluh dan jantung. Begadang membuat “dipping” tidak optimal: tekanan darah tetap lebih tinggi, denyut jantung cenderung lebih aktif, sistem saraf simpatik (mode lawan-atau-lari) lebih sering menyala.

Dalam jangka panjang, kombinasi tekanan darah yang tidak turun, kortisol tinggi, dan inflamasi sistemik mempercepat kerusakan dinding pembuluh dan mendorong aterosklerosis. Prosesnya pelan, sering tanpa gejala, sampai suatu hari muncul sebagai hipertensi, nyeri dada, serangan jantung, stroke, atau gagal jantung.

Begadang juga menggeser komposisi mikrobiota usus—beberapa studi menemukan peningkatan profil bakteri yang terkait inflamasi dan obesitas. Karena usus dan otak terhubung lewat gut-brain axis, perubahan ini bisa memengaruhi mood, imunitas, dan metabolisme.

Di tingkat penuaan sel, kurang tidur kronis dikaitkan dalam sejumlah studi dengan peningkatan stres oksidatif dan pemendekan telomer—penanda penuaan biologis. Artinya, usia kalender boleh sama, tetapi “usia sel” bisa berbeda.

Dalam konteks sistem reproduksi, tidur memengaruhi hormon seks. Pada pria, beberapa malam kurang tidur dapat menurunkan testosteron, berdampak pada energi dan libido. Pada wanita, gangguan tidur dapat mengacak ritme hormonal yang berkontribusi pada keteraturan siklus. Pada pasangan yang merencanakan kehamilan, tidur sering diremehkan padahal ia menyentuh banyak jalur hormonal dan metabolik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....