3 Jenis Makanan Pemicu Kolik pada Anak

  • 03 Feb 2026 18:03 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Kolik adalah kondisi pada bayi atau anak yang ditandai dengan tangisan berlebihan tanpa sebab yang jelas, biasanya berlangsung lama dan sulit ditenangkan. Kolik paling sering terjadi pada bayi usia beberapa minggu hingga sekitar 3 sampai 4 bulan, dan biasanya muncul pada waktu yang sama setiap hari, terutama sore atau malam hari. 

Kolik pada anak, khususnya bayi dan balita, sering membuat orang tua cemas. Tangisan berkepanjangan, perut kembung, hingga anak terlihat tidak nyaman bisa menjadi tanda kolik. Salah satu faktor pemicunya adalah jenis makanan yang dikonsumsi anak atau ibu menyusui. 

Berikut tiga jenis makanan yang perlu diwaspadai karena dapat memicu kolik.

1. Produk Susu dan Olahannya

Susu sapi, keju, yoghurt, dan produk olahan susu lainnya kerap menjadi penyebab kolik, terutama pada anak yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi protein susu sapi. Kondisi ini membuat sistem pencernaan anak kesulitan mencerna laktosa, sehingga menimbulkan gas berlebih, kembung, dan rasa nyeri pada perut. Pada bayi, reaksi ini juga bisa terjadi melalui ASI jika ibu mengonsumsi produk susu.

2. Makanan Tinggi Gas

Beberapa jenis makanan diketahui menghasilkan gas berlebih saat dicerna. Contohnya adalah kol, brokoli, kembang kol, bawang, dan kacang-kacangan. Konsumsi makanan ini dapat membuat perut anak terasa penuh dan tidak nyaman, sehingga memicu kolik. Meski bernutrisi, makanan tinggi gas sebaiknya diberikan secara bertahap dan disesuaikan dengan usia serta kondisi pencernaan anak.

3. Makanan dan Minuman Manis Berlebihan

Makanan dengan kandungan gula tinggi seperti permen, biskuit manis, minuman kemasan, dan jus dengan tambahan gula dapat mengganggu keseimbangan pencernaan anak. Gula berlebih dapat memicu fermentasi di usus, menghasilkan gas, dan menyebabkan kram perut. Pada bayi, hal ini bisa memperparah kolik dan membuat anak lebih rewel dari biasanya.

Untuk mengurangi risiko kolik, orang tua disarankan memperhatikan reaksi anak setelah mengonsumsi makanan tertentu, mengenalkan makanan baru secara bertahap, serta menjaga pola makan seimbang. Jika kolik berlangsung lama atau disertai gejala lain seperti muntah dan diare, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga dokter.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....