Tiga Pahlawan Nasional Maluku Utara, Berbeda Strategi Melawan Penjajahan

  • 10 Agt 2026 05:00 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate: Maluku Utara memiliki sejarah panjang perjuangan melawan kekuatan kolonial yang melahirkan sejumlah tokoh penting dan kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional. Tiga di antaranya adalah Sultan Nuku dari Kesultanan Tidore, Sultan Baabullah dari Kesultanan Ternate, dan Sultan Zainal Abidin Syah yang dikenal memiliki corak perjuangan berbeda sesuai tantangan pada zamannya.

Pahlawan nasional merupakan gelar penghargaan tertinggi yang diberikan negara kepada warga negara Indonesia atau pejuang yang berjasa luar biasa bagi bangsa dan negara. Selain memiliki integritas moral dan keteladanan, calon pahlawan nasional harus memiliki jasa luar biasa bagi bangsa dan negara serta setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketiga tokoh dari Maluku Utara tersebut memperlihatkan bagaimana perjuangan mempertahankan kedaulatan berkembang dari masa ke masa. Strateginya mencakup perang gerilya dan diplomasi, pengepungan serta mobilisasi kekuatan, hingga perjuangan politik dan pemerintahan.

Sultan Nuku dan Gerilya Bahari

Sultan Nuku dari Kesultanan Tidore merupakan salah satu tokoh penting dalam perlawanan terhadap VOC dan Belanda pada akhir abad ke-18.

Dalam perjuangannya, Sultan Nuku menggunakan mobilitas laut sebagai salah satu kekuatan utama. Pergerakan pasukannya yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain membuat kekuatan kolonial menghadapi tantangan dalam melacak pusat perlawanan.

Wilayah perjuangannya mencakup kawasan Maluku hingga bagian timur Nusantara. Armada laut dan jaringan pendukung menjadi bagian penting dalam mempertahankan gerakan perlawanan.

Selain kekuatan bersenjata, Sultan Nuku juga membangun hubungan dengan pihak lain untuk memperkuat posisi politik dan militernya dalam menghadapi Belanda.

Hubungan dengan Inggris menjadi salah satu bagian dari strategi diplomasi tersebut. Kerja sama itu dimanfaatkan untuk memperoleh dukungan yang dapat memperkuat perlawanan terhadap kekuatan Belanda.

Kemampuan membangun aliansi juga menjadi faktor penting dalam memperluas dukungan terhadap perjuangannya. Persatuan kekuatan lokal diperlukan untuk menghadapi dominasi kolonial yang memiliki sumber daya lebih besar.

Sultan Baabullah dan Pengepungan Portugis

Sultan Baabullah dari Kesultanan Ternate memimpin perlawanan terhadap Portugis pada abad ke-16.

Perjuangan tersebut semakin kuat setelah Sultan Khairun, ayahnya, terbunuh dalam konflik dengan Portugis. Sultan Baabullah kemudian melanjutkan perlawanan dan menggalang kekuatan dari berbagai wilayah yang memiliki hubungan dengan Kesultanan Ternate.

Salah satu strategi yang dikenal dalam perjuangan Sultan Baabullah adalah pengepungan terhadap Portugis di Benteng Sao Joao Baptista atau Gamlamo.

Pengepungan dilakukan dengan menekan jalur pasokan menuju benteng. Strategi tersebut membuat pasukan Portugis menghadapi keterbatasan logistik selama berada dalam kepungan.

Kekuatan laut juga menjadi bagian penting dalam perjuangan Sultan Baabullah. Armada kora-kora digunakan untuk mendukung mobilisasi pasukan dan memperkuat tekanan terhadap Portugis.

Perjuangan tersebut berakhir dengan keluarnya Portugis dari Ternate pada 1575. Peristiwa itu menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perlawanan Kesultanan Ternate terhadap kekuatan kolonial Portugis.

Sultan Zainal Abidin Syah dan Perjuangan Politik

Memasuki abad ke-20, bentuk perjuangan mempertahankan wilayah Indonesia mengalami perubahan. Sultan Zainal Abidin Syah mengambil peran melalui jalur politik dan pemerintahan dalam mempertahankan integrasi wilayah Indonesia.

Sultan Zainal Abidin Syah dikenal sebagai tokoh yang menolak upaya Belanda memisahkan wilayah Maluku dan Irian Barat dari Indonesia melalui pembentukan struktur politik yang berada di bawah pengaruh Belanda.

Pada 1956, Sultan Zainal Abidin Syah dipercaya Presiden Soekarno menjadi Gubernur Irian Barat pertama.

Pemerintahan Provinsi Irian Barat pada masa itu berkedudukan sementara di Soa-Sio, Tidore. Penempatan pemerintahan tersebut menjadi bagian dari perjuangan politik Indonesia untuk mempertahankan klaim atas wilayah Irian Barat.

Perjuangan tersebut berlangsung dalam konteks politik Indonesia yang tengah berupaya mempertahankan integrasi wilayahnya. Persoalan Irian Barat kemudian berkembang menjadi agenda nasional dan berkaitan dengan pelaksanaan Operasi Trikora.

Peran Sultan Zainal Abidin Syah menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan wilayah tidak hanya dilakukan melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui pemerintahan, diplomasi dan legitimasi politik.

Strategi Berbeda, Tujuan yang Sama

Sultan Nuku, Sultan Baabullah dan Sultan Zainal Abidin Syah hidup pada periode sejarah yang berbeda. Karena itu, bentuk dan strategi perjuangan mereka juga berkembang mengikuti kondisi politik serta kekuatan yang dihadapi.

Sultan Nuku dikenal dengan mobilitas gerilya bahari dan diplomasi aliansi. Sultan Baabullah mengandalkan pengepungan, kekuatan armada serta mobilisasi wilayah sekutu dalam menghadapi Portugis.

Sementara Sultan Zainal Abidin Syah berjuang melalui jalur politik dan pemerintahan dalam mempertahankan integrasi wilayah Indonesia.

Perbedaan strategi tersebut menjadi gambaran perjalanan panjang sejarah perjuangan masyarakat Maluku Utara. Dari perlawanan bersenjata di laut hingga perjuangan melalui pemerintahan dan diplomasi, ketiganya meninggalkan jejak dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bagi Maluku Utara, ketiga tokoh tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah daerah, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan dan integrasi wilayah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....