Investasi Bodong di Ternate Kian Marak Masyarakat Diminta Waspada Modus Digital
- 16 Apr 2026 12:25 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID,Ternate - Praktik investasi bodong masih marak terjadi di Kota Ternate dan bahkan semakin berkembang dengan modus yang lebih canggih. Hal ini terungkap dalam program Investasi bersama Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Hartaty Hadady yang membahas fenomena penipuan berkedok investasi tersebut.
Dalam dialog tersebut, Hartaty menegaskan bahwa investasi bodong tidak pernah benar-benar hilang, justru kini bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi digital. Jika sebelumnya dilakukan secara konvensional, kini penipuan banyak dilakukan melalui media sosial, platform digital, hingga memanfaatkan influencer dan testimoni palsu untuk meyakinkan calon korban.
“Investasi bodong adalah investasi yang tidak legal, tidak transparan, dan menjanjikan keuntungan yang tidak masuk akal. Biasanya juga tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan,” jelasnya.
Salah satu ciri utama investasi bodong adalah janji keuntungan tinggi dalam waktu singkat, bahkan mencapai 10 hingga 30 persen per bulan, atau lebih. Secara teori keuangan, hal tersebut dinilai tidak logis.
Fenomena ini diperparah dengan perilaku masyarakat yang tergiur keuntungan instan. Faktor lain seperti rendahnya literasi keuangan, rasa takut ketinggalan (FOMO), serta kebiasaan ikut-ikutan juga menjadi pemicu maraknya korban.
“Banyak yang sebenarnya sudah tahu itu ilegal, tapi tetap ikut karena ingin cepat untung. Ini yang berbahaya,” tambahnya.
Dalam praktiknya, investasi bodong umumnya menggunakan skema ponzi, di mana keuntungan investor lama dibayar dari dana investor baru. Skema ini akan runtuh ketika tidak ada lagi aliran dana masuk.
“Yang diuntungkan hanya yang lebih dulu masuk. Sementara yang belakangan justru mengalami kerugian besar,” jelasnya.
Kasus serupa juga diungkapkan oleh salah satu penelepon dalam dialog, yang menceritakan pengalaman mengikuti investasi emas dengan sistem perekrutan anggota. Ia menyebut, keuntungan hanya dinikmati oleh pihak atas, sementara anggota di bawah mengalami kerugian.
Tidak hanya berbentuk investasi uang, modus penipuan kini juga merambah ke berbagai sektor seperti investasi emas, saham, hingga paket umrah. Beberapa bahkan mengemas penawaran dengan narasi religius untuk menarik minat masyarakat.
“Kalau ada investasi yang mengharuskan kita mencari anggota baru agar bisa mendapatkan keuntungan, itu patut dicurigai,” tegasnya.
Selain itu, penipuan juga kerap dilakukan melalui telepon atau pesan digital yang meminta data pribadi hingga transfer uang. Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya, terutama jika dihubungi oleh pihak yang tidak dikenal.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan prinsip sederhana dalam menilai sebuah investasi, yaitu:
- Legal: Terdaftar dan diawasi oleh OJK
- Logis: Keuntungan masuk akal
Transparan: Memiliki laporan keuangan yang jelas“Kalau tidak memenuhi tiga hal itu, sebaiknya dihindari,” ujarnya
Investasi bodong tidak hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga menimbulkan trauma yang membuat korban enggan berinvestasi kembali. Secara luas, fenomena ini juga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan.
Menutup dialog, narasumber mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur testimoni, tidak ikut-ikutan, serta selalu memahami produk investasi sebelum memutuskan menanamkan modal.“
“Literasi keuangan adalah benteng utama. Semakin paham, semakin kecil kemungkinan kita menjadi korban,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....