Di tengah Modernitas, Nilai Lokal Tidore Didorong Tetap Hidup di Kalangan Anak Muda

  • 22 Sep 2026 11:08 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Tidore - Upaya memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai budaya lokal menjadi perhatian dalam kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya bertajuk “Revitalisasi Nilai Lokal: Meneguhkan Peraturan Kie Se Kolano di Kalangan Generasi Muda Tidore”.

Kegiatan yang berlangsung di Tidore, Senin 21 September 2026, tersebut menjadi ruang untuk membahas pentingnya menjaga sekaligus mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Peraturan Kie Se Kolano agar tetap relevan bagi kehidupan generasi muda.

Koordinator sekaligus Ketua Peneliti, Abd. Wahab A. Rahim, mengatakan penelitian tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendokumentasikan Peraturan Kie Se Kolano sebagai bagian dari warisan budaya.

Menurut dia, penelitian juga berupaya menggali relevansi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat dipahami, diwariskan, dan diterapkan oleh generasi muda Tidore.

“Penelitian ini tidak berhenti pada upaya mendokumentasikan Peraturan Kie Se Kolano, tetapi bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat kembali dipahami, diwariskan, dan diaktualisasikan oleh generasi muda Tidore dalam kehidupan mereka,” kata Abd. Wahab.

Ia mengatakan generasi muda memiliki posisi penting dalam keberlanjutan kebudayaan. Karena itu, penguatan pemahaman terhadap budaya lokal perlu dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan kehidupan generasi muda.

Pendekatan tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui pendidikan, ruang-ruang kebudayaan, serta pemanfaatan media komunikasi yang dekat dengan kehidupan anak muda.

Peneliti sekaligus Direktur Buku Suba Institute, Sukarno M. Adam, dalam kegiatan itu membawakan materi bertajuk “Merawat Akar, Menatap Masa Depan: Anak Muda di Tengah Perubahan Sosial dan Budaya”.

Sukarno mengatakan perubahan sosial dan budaya merupakan bagian dari perkembangan kehidupan masyarakat. Namun, perubahan tersebut tidak harus membuat generasi muda kehilangan hubungan dengan identitas dan akar budayanya.

“Menjadi generasi muda yang mampu menatap masa depan tidak berarti harus meninggalkan akar budaya. Justru dengan memahami akar dan identitasnya, anak muda memiliki pijakan yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan,” ujarnya.

Menurut dia, upaya menjaga kebudayaan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Kebudayaan tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum formal, tetapi perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan cara tersebut, generasi muda dapat memahami budaya bukan hanya sebagai warisan dari masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan kehidupan sosial mereka.

Sementara itu, Rektor Universitas Nuku, Idris Sudin, membawakan materi bertajuk “Budaya di Tengah Modernitas: Apakah Pendidikan Masih Menjadi Benteng Nilai?”.

Idris menyoroti pentingnya hubungan antara pendidikan, kebudayaan, dan pembentukan karakter generasi muda.

Menurut dia, pendidikan memiliki posisi strategis untuk memperkenalkan sekaligus menjaga nilai-nilai budaya agar tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.

“Pendidikan tidak hanya bertugas mencerdaskan manusia secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan menanamkan nilai. Karena itu, pendidikan harus tetap menjadi ruang untuk memperkenalkan, menjaga, dan menghidupkan nilai-nilai budaya di tengah arus modernitas,” katanya.

Ia mengatakan pendidikan dan kebudayaan perlu berjalan beriringan. Pengetahuan mengenai budaya lokal, termasuk nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Tidore, perlu mendapat ruang dalam proses pendidikan.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat memahami relevansinya dalam kehidupan saat ini dan masa mendatang.

Kegiatan tersebut dimoderatori Akib Bahar yang memandu pemaparan materi sekaligus diskusi antara narasumber dan peserta.

Forum berlangsung secara interaktif. Peserta diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan, pandangan, dan tanggapan terkait keberadaan kebudayaan lokal di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.

Sekitar 76 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Peserta didominasi generasi muda, termasuk siswa tingkat SLTA dan mahasiswa dari Kota Tidore Kepulauan.

Kehadiran generasi muda dinilai menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman mengenai nilai-nilai budaya lokal sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Tidore.

Diseminasi hasil penelitian tersebut menekankan bahwa pelestarian kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan peninggalan masa lalu.

Lebih dari itu, pelestarian juga menyangkut bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam warisan budaya tetap dipahami, diwariskan, dan memiliki relevansi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Penelitian tersebut memperoleh dukungan pendanaan melalui Program Dana Indonesiana yang kini berubah nomenklatur menjadi Dana Indonesia Raya, sebuah program pendanaan kebudayaan hasil kerja sama Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Melalui dukungan tersebut, penelitian diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pengembangan pengetahuan mengenai kebudayaan lokal, tetapi juga menghasilkan rekomendasi yang dapat dimanfaatkan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai budaya lokal secara berkelanjutan.(*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....