Etika dan Empati Digital Penting Cegah Perundungan di Media Sosial

  • 16 Sep 2026 04:41 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Penggunaan media sosial membutuhkan etika dan empati agar ruang digital tidak menjadi tempat berkembangnya perundungan maupun komentar negatif terhadap orang lain. Hal tersebut disampaikan Koordinator Wilayah Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Ternate, Armenia M. Yainahu, dalam dialog interaktif Ternate siang ini yang membahas etika dan empati digital. Selasa,15 - September - 2026

Armenia mengatakan, pengguna media sosial perlu memahami bahwa setiap komentar yang disampaikan dapat memberikan dampak berbeda bagi orang yang menerimanya. Menurutnya, komentar yang dianggap sebagai candaan oleh seseorang belum tentu diterima sebagai candaan oleh orang lain. Karena itu, pengguna media sosial perlu mempertimbangkan apakah komentar yang disampaikan bersifat membangun atau justru menjatuhkan.

“Ketika kita berkomentar, sebaiknya melihat apakah komentar itu bisa membangun atau tidak,” ujar Armenia. Ia menegaskan, pengguna media sosial juga perlu mengingat bahwa setiap aktivitas di ruang digital meninggalkan jejak digital.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak sembarangan membagikan informasi pribadi maupun percakapan orang lain tanpa izin. Selain menjaga privasi, Armenia mengingatkan masyarakat untuk menggunakan bahasa yang sopan dan tidak memicu kesalahpahaman. Pengguna media sosial juga perlu melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi kepada orang lain.

Armenia menjelaskan, dampak perundungan dapat menyerang kondisi mental dan psikologis korban. Dampaknya dapat menjadi lebih berat ketika korban tidak memiliki lingkungan keluarga maupun pertemanan yang mendukung.Karena itu, ia mendorong korban perundungan untuk tidak memendam persoalan seorang diri. Korban dapat menceritakan kondisi yang dialami kepada keluarga atau orang terdekat agar mendapatkan dukungan.

Sementara untuk menghadapi komentar negatif, Armenia menyarankan agar korban tidak perlu membalas komentar satu per satu. Jika diperlukan, klarifikasi dapat disampaikan secara menyeluruh untuk menghindari perdebatan yang justru menambah beban psikologis.“Kalau mau balas satu-satu, sebaiknya jangan, karena nanti lelah sendiri,” katanya.

Armenia menambahkan, perundungan yang sudah berada pada tingkat serius dapat dilaporkan. Langkah tersebut dinilai penting sebagai upaya memberikan efek jera sekaligus mencegah tindakan serupa dilakukan kembali oleh pelaku.Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah ikut menyebarkan informasi yang sedang viral sebelum mengetahui kebenarannya. Pengguna media sosial perlu memeriksa sumber, kredibilitas, serta tanggal informasi sebelum membagikannya.

Menurutnya, informasi lama juga dapat kembali viral sehingga masyarakat perlu memastikan konteks dan waktu informasi sebelum ikut menyebarkannya. “Ketika kita mendapatkan informasi, cek dulu sumber informasi itu dari mana. Jangan langsung share, harus dicek dulu kebenarannya,” ujar Armenia.

Armenia berharap kesadaran etika dan empati digital dapat dibangun sejak lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman dan mengawasi penggunaan media sosial anak. Pendidikan mengenai penggunaan media sosial secara bijak juga dinilai perlu diperkuat di lingkungan sekolah, mengingat penggunaan telepon pintar dan media sosial kini semakin dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja.

Dengan etika, empati, serta kemampuan memverifikasi informasi, masyarakat diharapkan dapat menciptakan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....