BMKG Ternate Jelaskan Pengamatan Penentu Awal Bulan Hijriah

  • 19 Jan 2026 11:51 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Ternate menegaskan pentingnya pengamatan hilal sebagai bagian dari proses penentuan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Hal tersebut disampaikan oleh Prakirawan Meteorologi dan Geofisika (PMG) Stasiun Geofisika Ternate, Bayu Merdeka dan Ahmadi Musa, saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif di RRI Ternate, Sabtu 17 Januari 2026.

Bayu Merdeka menjelaskan, BMKG memiliki tugas pokok dan fungsi melakukan pengamatan astronomi, termasuk pengamatan hilal, gerhana matahari, dan gerhana bulan. Pengamatan hilal dilakukan untuk melihat kemunculan bulan sabit pertama setelah konjungsi, yang menjadi penanda awal bulan dalam kalender Hijriah.

“Hilal itu adalah bulan sabit pertama yang muncul di awal fase bulan. Dalam konteks keagamaan, hilal menjadi penentu masuknya awal bulan Hijriah seperti Ramadan, Syawal, dan Zulhijah,” ujar Bayu.

Ia menyebutkan, BMKG melakukan pengamatan hilal secara serentak di sekitar 40 hingga 50 titik pengamatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Seluruh data hasil pengamatan tersebut dikompilasi secara nasional dan disampaikan kepada Kementerian Agama sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan awal bulan Hijriah melalui sidang isbat.

Sementara itu, Ahmadi Musa menambahkan bahwa metode yang digunakan BMKG dalam pengamatan hilal mengombinasikan perhitungan astronomis (hisab) dan pengamatan langsung di lapangan (rukyatul hilal).

“BMKG menyediakan data hisab yang disusun dalam Almanak BMKG. Data ini kemudian divalidasi melalui rukyatul hilal dengan pengamatan langsung menggunakan peralatan optik,” kata Ahmadi.

Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi keberhasilan pengamatan hilal adalah kondisi cuaca, terutama awan tebal di ufuk barat saat matahari terbenam. Selain itu, ketinggian hilal yang rendah juga kerap menjadi kendala, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.

“Di Ternate sendiri, tantangan yang paling sering dihadapi adalah awan tebal di ufuk barat. Walaupun cuaca di sekitar lokasi cerah, kondisi ufuk sering kali tertutup awan,” ucapnya.

Terkait perbedaan penetapan awal bulan Hijriah yang kerap terjadi di masyarakat, Bayu menegaskan bahwa BMKG tidak memiliki kewenangan menetapkan awal bulan. BMKG hanya berperan sebagai penyedia data ilmiah dan hasil observasi.

“Keputusan penetapan awal bulan Hijriah sepenuhnya berada di tangan Kementerian Agama. Perbedaan yang terjadi umumnya disebabkan oleh perbedaan kriteria dan metode yang digunakan masing-masing organisasi keagamaan,” katanya.

BMKG juga membuka ruang partisipasi masyarakat dalam pengamatan hilal. Warga yang ingin menyaksikan langsung proses rukyatul hilal dipersilakan bergabung di lokasi pengamatan yang telah ditentukan, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan ketentuan teknis.

Selain itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu mengakses informasi resmi melalui kanal BMKG. Seperti aplikasi Info BMKG, situs web, serta media sosial resmi, guna menghindari informasi hoaks, termasuk terkait penentuan awal bulan Hijriah.

“BMKG juga menyiarkan proses pengamatan hilal secara langsung melalui kanal YouTube resmi, sehingga masyarakat bisa ikut menyaksikan secara transparan,” kata Bayu. Dengan pengamatan yang berbasis sains dan terbuka untuk publik, BMKG berharap masyarakat dapat memahami bahwa penentuan awal bulan Hijriah dilakukan melalui proses ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....