Merawat Ruang Dialog Sehat di Tengah Perbedaan

  • 14 Agt 2025 09:22 WIB
  •  Ternate

KBRN, Ternate: Dalam masyarakat yang kian plural dan terhubung, perbedaan pendapat menjadi bagian tak terhindarkan dari kehidupan sehari-hari. Namun bagaimana caranya agar perbedaan ini tidak menjadi sumber konflik, melainkan ruang tumbuh bersama.

Dua tokoh muda Nadhir Wardana, CEO Beyond Health Indonesia, dan Hamdy M. Zen, akademisi serta pengurus Pemuda ICMI — membahas pentingnya merawat ruang dialog sebagai pilar kehidupan.Rabu,(13/08/2025)

Bagi Nadhir Wardana, kemampuan berdialog secara sehat sangat dipengaruhi oleh tiga jenis kecerdasan manusia: IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional), dan SQ (kecerdasan spiritual).

"Kita sering fokus pada IQ, padahal kemampuan berdialog justru lebih banyak ditentukan oleh EQ dan SQ. Kalau seseorang cerdas secara emosional dan spiritual, ia akan mampu mendengar, memahami, dan menghargai perbedaan," ujar Nadhir

Melalui line telp Beyond Health Indonesia, Nadhir menilai banyak konflik sosial hari ini lahir bukan dari perbedaan itu sendiri, tetapi dari ketidakmampuan individu mengelola ego dan emosi.

"Dialog yang sehat memerlukan kestabilan emosi, kematangan berpikir, dan nilai moral. Itulah mengapa tiga jenis kecerdasan ini penting dipahami dan

Sementara itu, Hamdy M. Zen di studio pro4 menekankan bahwa dalam masyarakat demokratis, perbedaan pendapat adalah pilar utama kebebasan berekspresi. Namun, ia menyoroti lemahnya literasi dialog di kalangan generasi muda.

"Banyak yang salah paham bahwa perbedaan itu ancaman. Padahal kalau kita bisa mengelola ruang dialog, perbedaan justru memperkaya cara pandang kita terhadap suatu persoalan," kata Hamdy.

Menurutnya, tantangan terbesar di era digital saat ini adalah menjadikan ruang publik baik fisik maupun virtual sebagai tempat yang aman untuk saling bertukar pikiran,

Kedua narasumber sepakat bahwa dunia digital harus diimbangi dengan literasi dialog yang kuat. Tanpa itu, perbedaan pendapat mudah berubah menjadi konflik terbuka.

"Kalau ruang digital hanya jadi tempat debat tanpa empati, artinya kita belum dewasa secara emosional maupun spiritual," ujar Nadhir.

"Kita perlu membudayakan kembali etika berdiskusi, menghargai, mendengar, bukan sekadar menang sendiri," tamahnya

Di tengah dinamika sosial yang kompleks, merawat ruang dialog menjadi tugas bersama. Baik dalam lingkup keluarga, komunitas, hingga skala nasional, kemampuan berdialog secara sehat adalah pondasi penting untuk menjaga keutuhan bangsa.

"Kalau kita ingin hidup damai di tengah perbedaan, mulailah dari melatih EQ dan SQ. Karena dialog itu bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling mampu memahami," tutup Nadhir.

Generasi muda harus jadi penjaga ruang dialog. Karena masa depan demokrasi kita ada di tangan mereka.#Kitaindonesia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....