Moderasi Beragama Dinilai Penting Rawat Kerukunan di Maluku Utara

  • 06 Okt 2026 14:45 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID,Ternate – Moderasi beragama dinilai menjadi salah satu pendekatan penting dalam merawat kerukunan dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Maluku Utara. Akademisi Universitas Khairun, Dr. Wahidin Noe, mengatakan moderasi beragama merupakan cara pandang dalam menjalankan kehidupan beragama dengan mengambil jalan tengah.

Menurutnya, moderasi beragama bukan berarti mengurangi atau mengubah keyakinan seseorang terhadap agamanya. Moderasi justru mendorong setiap orang tetap teguh pada keyakinannya dengan menghormati keberadaan dan keyakinan orang lain. “Yang penting bagaimana kita menghargai dan menghormati hak orang lain,” kata Wahidin dalam dialog Pro 1 RRI Ternate, dengan tema “Moderasi Beragama, Merawat Kerukunan, Memperkuat Persatuan”.

Ia menjelaskan, sikap moderat dapat diwujudkan melalui toleransi, penolakan terhadap kekerasan, serta komitmen terhadap kehidupan kebangsaan. Menurutnya, persatuan tidak terbentuk dengan sendirinya. Namun, diperlukan upaya bersama membangun ruang kebersamaan dan membiasakan masyarakat hidup berdampingan di tengah perbedaan.

Di lingkungan kampus, moderasi beragama dapat diterapkan melalui pendidikan dan kebijakan yang tidak diskriminatif. Sementara di lingkungan masyarakat, semangat gotong royong dapat menjadi salah satu bentuk nyata moderasi beragama.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat dalam menjaga kerukunan. Para tokoh dinilai memiliki pengaruh kuat untuk membantu masyarakat menyelesaikan persoalan secara bijak sebelum berkembang menjadi konflik sosial. “Tokoh masyarakat harus punya pemahaman dan literasi untuk mau hidup bersama di tengah keberagaman,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan yang muncul di tengah masyarakat perlu dilihat secara proporsional dan tidak langsung dikaitkan dengan identitas agama atau kelompok. Persoalan personal harus diselesaikan sebagai persoalan personal agar tidak berkembang menjadi konflik antarkelompok.

Wahidin juga menyoroti tantangan moderasi beragama di era digital. Generasi muda diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam menerima maupun menyebarkan informasi. Mereka perlu mampu memilah informasi yang benar dan tidak mudah terprovokasi oleh konten di media sosial.

Ia juga menegaskan, kerukunan perlu terus dirawat melalui sikap saling menghormati, komunikasi, toleransi, dan kesediaan memahami perbedaan. “Boleh berbeda dalam keyakinan, budaya maupun cara pandang. Tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kedamaian di lingkungan tempat kita hidup,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....