Gotong Royong Iduladha Jadi Simbol Moderasi Beragama di Maluku Utara

  • 26 Mei 2026 16:48 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Semangat gotong royong dalam menyambut Hari Raya Iduladha dinilai masih kuat di tengah masyarakat Maluku Utara dan menjadi bagian penting dalam memperkuat moderasi beragama serta menjaga kerukunan antarumat beragama.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Kerja Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kementerian Agama Maluku Utara, Safri Kamaria saat menjadi narasumber dalam program Moderasi Beragama Pro 1 RRI Ternate, Selasa 26 Mei 2026.

Dalam dialog bertema “Geliat Gotong Royong Iduladha dalam Bingkai Moderasi”, Safri mengatakan budaya gotong royong telah menjadi identitas masyarakat Indonesia sejak lama, termasuk di Maluku Utara.

“Gotong royong itu sudah benar-benar menjadi ikon kita. Memang sempat mengalami penurunan, tetapi sekarang mulai dibangun kembali karena ini menjadi identitas masyarakat,” ujarnya.

Menurut Safri, semangat gotong royong menjelang Iduladha tidak hanya dilakukan sesama umat Islam, tetapi juga melibatkan masyarakat lintas agama. Ia menyebut partisipasi umat nonmuslim dalam berbagai kegiatan sosial keagamaan umat Islam menjadi bukti kuatnya toleransi di Maluku Utara.

“Partisipasi masyarakat nonmuslim dalam kegiatan sosial umat Islam sering kita saksikan, baik menjelang maupun saat Hari Raya Iduladha. Ini menjadi sesuatu yang baik dalam upaya merawat kerukunan dan memperkuat moderasi beragama,” katanya.

Ia menilai peran tokoh agama hingga saat ini masih sangat strategis dalam menjaga semangat toleransi di tengah keberagaman suku, ras, dan agama. Menurutnya, tokoh agama terus mengedukasi masyarakat agar menjaga kebersamaan dan tidak mudah terprovokasi.

Safri juga mengingatkan tantangan terbesar dalam menjaga kerukunan saat ini berasal dari media sosial. Ia mengatakan arus informasi yang cepat di media sosial berpotensi memicu provokasi apabila tidak disikapi dengan bijak.

“Informasi di media sosial sangat cepat menyebar. Kalau masyarakat tidak hati-hati menanggapinya, maka bisa berdampak pada hubungan sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, Kementerian Agama terus mengingatkan masyarakat agar cerdas dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terpancing narasi provokatif yang dapat merusak persaudaraan antarumat beragama.

Dalam dialog tersebut, seorang pendengar dari Madiun, Jawa Timur, turut menyampaikan apresiasinya terhadap praktik toleransi di Maluku Utara. Ia mencontohkan keterlibatan umat Islam saat perayaan Natal dan partisipasi umat nonmuslim saat Idulfitri maupun Iduladha.

Menanggapi hal itu, Safri menyebut praktik saling membantu dalam momentum hari raya menunjukkan bahwa masyarakat Maluku Utara telah memiliki kesadaran kolektif untuk memperkuat kerukunan.“Ini bukan hanya soal toleransi, tetapi sudah menjadi kesadaran bersama untuk menjaga persaudaraan antarumat beragama,” katanya.

Safri juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga nilai toleransi dan gotong royong. Ia berharap kaum milenial dapat menjadi garda terdepan dalam menyebarkan pesan perdamaian dan kerukunan di tengah masyarakat.

Menutup dialog, Safri mengajak masyarakat menjadikan Iduladha sebagai momentum memperkuat nilai kemanusiaan, keikhlasan, serta semangat menerima perbedaan sebagai rahmat.

“Momentum Iduladha mengajarkan kita untuk ikhlas, berbagi, dan menjaga kebersamaan. Salah satu bentuk pengorbanan yang penting adalah menerima perbedaan sebagai rahmat dan berkah,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....