Membangun Kepercayaan Publik dan Keterbukaan dalam Program MBG
- 29 Sep 2025 09:30 WIB
- Ternate
KBRN, Ternate: Jika benar bahwa tujuan dari MBG (Makan Bergizi Gratis) adalah sebuah niat baik yang telah dirancang untuk mencapai lebih dari sekadar ketahanan pangan. Program ini berfungsi sebagai katalis untuk pembangunan ekonomi lokal, yakni melalui dukungan kepada UMKM dan penciptaan pekerjaan di bidang pertanian.
Dampak akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan melalui penurunan kemiskinan dan meningkatkan gizi masyarakat tetutama pada anak-anak. Yang secara signifikan akan meningkatkan kualitas SDM bangsa di masa depan melalui invetasi gizi.
Program yang dirancang dengan semangat kemanusiaan dan keberpihakan pada rakyat kecil ini seharusnya menjadi teladan bagaimana negara hadir di tengah rakyatnya. Namun, niat baik tanpa kualitas pelaksanaan justru bisa berbalik arah.
Mlahirkan masalah baru, mengecewakan masyarakat. Bahkan mencoreng kepercayaan pada program itu sendiri.
Kita perlu jujur baru baru ini ada beberapa peristiwa MBG yang menuai sorotan. Ada laporan mengenai keluhan rasa, mutu gizi yang tidak sesuai, bahkan kasus keracunan makanan yang semestinya tidak boleh terjadi pada sebuah program sebesar ini.
Masalah seperti itu bukan sekadar soal teknis di dapur, melainkan soal keselamatan publik dan citra sebuah kebijakan. Jika ada satu kasus keracunan, dampaknya bisa menjalar pada ribuan orang yang kehilangan kepercayaan.
Padahal, kepercayaan adalah modal utama dalam kebijakan sosial. Di sinilah pentingnya memperbaiki kualitas dan kuantitas pelayanan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dapur bukan sekadar ruang memasak, melainkan jantung dari program ini. SOP (Standard Operating Procedure) dapur harus menjadi pedoman yang ketat, tidak boleh diabaikan.
Apalagi hanya dijadikan formalitas di atas kertas. Mulai dari cara memilih bahan makanan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi harus terjamin sesuai standar keamanan pangan.
Pengawasan juga tidak boleh bersifat insidental, melainkan berkelanjutan dengan evaluasi yang jelas. Kualitas tidak hanya diukur dari rasa atau tampilan makanan, tetapi juga dari keamanan pangan dan kandungan gizinya.
Apakah bahan segar yang digunakan sudah sesuai standar?. Apakah pengolahan dilakukan dengan memperhatikan suhu, higienitas alat, dan sanitasi pekerja?.
Apakah distribusi sampai ke tangan penerima dengan kualitas tetap terjaga?. Pertanyaan-pertanyaan ini harus menjadi indikator yang selalu diperiksa setiap hari.
Masukan dan kritik dari masyarakat sebenarnya adalah vitamin bagi sebuah program. Kritik bukan musuh, melainkan tanda kepedulian publik. Jika pengelola MBG alergi terhadap kritik, maka perbaikan akan terhambat.
Lebih parah lagi, kritik yang diabaikan hanya akan melahirkan ketidakpercayaan. Padahal, dengan mendengar kritik, pengelola bisa tahu titik lemah pelaksanaan dan segera melakukan langkah koreksi.
Justru yang harus diwaspadai adalah ketika masyarakat diam. Diamnya masyarakat bukan berarti puas, melainkan bisa jadi sudah apatis karena merasa suaranya tidak pernah didengar.
Untuk itu, manajemen MBG perlu menumbuhkan budaya keterbukaan dan evaluasi, Libatkan ahli gizi, akademisi, dan praktisi serta berbagai sector. Yang memiliki peran dalam menangani masalah pangan seperti BPOM dan Dinas Pangan maupun Puskesmas serta sekolah atau penerima manfaat dalam mengawasi keamanan pangan.
Selain itu, penting untuk memperhatikan aspek sumber daya manusia (SDM). Dapur MBG seharusnya dikelola oleh tenaga terlatih, bukan sekadar pekerja yang asal bisa memasak.
Mereka harus mendapat pelatihan tentang higiene sanitasi, standar gizi, serta prosedur keamanan pangan. SDM yang terlatih akan lebih disiplin dalam menjaga kualitas pelayanan.
Pada akhirnya, tujuan baik tidak cukup jika hanya berhenti pada slogan. Program ini harus membuktikan bahwa niat mulia bisa diwujudkan dalam pelayanan yang berkualitas.
Masyarakat berhak mendapatkan layanan yang terbaik, bukan karena mereka menuntut lebih, tetapi karena itulah esensi dari sebuah kebijakan publik melindungi dan menyejahterakan rakyat.
Dengan memperkuat SOP dapur, menjaga kualitas dan kuantitas pelayanan, serta membuka diri pada kritik dan masukan, MBG bisa benar-benar menjadi program yang membanggakan. Mari kita dorong agar semangat baik ini tidak ternodai oleh kelalaian teknis. Sebab, tujuan baik hanya akan bermakna jika diwujudkan dengan cara yang benar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....