Difabel Kreatif Aceh, Dari Seni Digital hingga Bengkel dan Kerajinan Gayo
- 04 Okt 2026 07:12 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Penyandang disabilitas di Aceh menunjukkan bahwa kreativitas dapat berkembang di berbagai bidang, mulai dari seni digital, seni lukis, otomotif, hingga kerajinan tradisional. Sejumlah sosok dan komunitas di Aceh membuktikan bahwa kesempatan belajar, pendampingan, dan ruang berkarya dapat membuka peluang untuk berkarya sekaligus mandiri secara ekonomi.
Salah satunya Khairul Fikri, seniman disabilitas asal Takengon yang menekuni desain grafis dan scribble art. Selama lebih dari dua tahun menggeluti seni tersebut, Fikri mengaku telah menghasilkan lebih dari seribu karya. Foto yang semula hanya menjadi kenangan di telepon genggam diolah menjadi karya digital melalui garis dan coretan, kemudian dikembangkan menjadi jasa desain maupun berbagai produk seperti mug, cangkir, dan kaus.
Perjalanan Fikri tidak hanya berlangsung di dunia kreatif. Ia merantau ke Bandung sejak 2021 untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuannya melalui komunitas disabilitas. Pada Maret 2026, RRI Takengon memberitakan keberhasilannya menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana. Bagi Fikri, komunitas dan teknologi menjadi ruang untuk mengembangkan potensi serta membangun kepercayaan diri.
Dari dunia digital, ada Ramli, penyandang tunarungu yang menekuni seni lukis melalui pendampingan SLB YAPDI Banda Aceh. Ramli yang sebelumnya terbiasa menggambar menggunakan pensil kemudian belajar menggunakan kuas, cat, dan kanvas. Karyanya berkembang menjadi lukisan potret sejumlah tokoh dan pernah membawanya mewakili Aceh dalam ajang seni tingkat nasional. Pada 2026, karya Ramli terus dikembangkan sebagai bagian dari bekal masa depannya.
Kisah kemandirian juga terlihat dari Jumono dan Nasip di Aceh Tamiang. Keduanya mengembangkan keterampilan sebagai mekanik melalui Rumah Kreatif Tamiang. Jumono, yang menggunakan tongkat, sebelumnya bekerja serabutan dan menjadi buruh perkebunan. Setelah mengikuti pelatihan mekanik, ia bekerja di bengkel difabel dan penghasilannya membantu membiayai pendidikan tiga anaknya. Sementara Nasip yang sebelumnya bekerja sebagai buruh perkebunan dan serabutan mengaku belajar mesin dari awal hingga kemudian memiliki bengkel kecil di rumah.
Rumah Kreatif Tamiang juga berkembang menjadi ruang pemberdayaan ekonomi yang lebih luas. Selain bengkel, terdapat Inklusi Coffee, unit usaha kopi yang melibatkan penyandang disabilitas. Pada Mei 2026, produk kopi tersebut bahkan dibawa ke ajang Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition di Jakarta. Kehadiran produk tersebut menunjukkan bahwa karya dan usaha penyandang disabilitas dapat memasuki ruang promosi yang lebih luas.
Di Aceh Tengah, pemberdayaan juga dilakukan melalui Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI). Para perempuan disabilitas diajak mengembangkan kerajinan khas Gayo, seperti baju kerawang, dompet, dan tali pinggang. Kegiatan tersebut diarahkan tidak hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. HWDI juga mendorong tersedianya ruang kreatif bagi penyandang disabilitas, khususnya mereka yang putus sekolah dan belum memiliki aktivitas produktif.
Berbagai kisah tersebut memperlihatkan beragam bentuk karya penyandang disabilitas di Aceh. Fikri mengembangkan seni digital, Ramli mengekspresikan diri melalui lukisan, Jumono dan Nasip menekuni mekanik, sementara perempuan disabilitas Aceh Tengah mengembangkan kerajinan berbasis budaya Gayo. Cerita mereka menunjukkan pentingnya akses pendidikan, pelatihan, pendampingan, komunitas, dan kesempatan ekonomi agar kemampuan penyandang disabilitas dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....