Gas Subsidi dan Semen Mahal, Warga Desak Pemkab Bertindak
- 03 Agt 2026 14:04 WIB
- Takengon
Poin Utama
- Masyarakat Takengon meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah memperkuat pengawasan distribusi LPG subsidi 3 kilogram yang dilaporkan sulit diperoleh di pangkalan resmi.
- LPG subsidi 3 kilogram dijual dengan harga Rp35 ribu per tabung di pengecer, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.
- Harga semen di sejumlah toko bangunan Takengon juga dilaporkan mencapai sekitar Rp110 ribu per sak, mengalami kenaikan yang signifikan.
RRI.CO.ID, Takengon: Masyarakat di kawasan Kota Takengon meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah memperkuat pengawasan terhadap distribusi LPG subsidi 3 kilogram dan harga semen yang dinilai terus mengalami kenaikan.
Warga berharap pemerintah tidak hanya menunggu laporan masyarakat, tetapi melakukan pengawasan secara rutin agar kebutuhan pokok tetap tersedia dengan harga yang sesuai ketentuan.
Keluhan warga ini disampaikan dalam program Halo RRI, Senin 3 Agustus 2026 di Pro1 Takengon. Menurut warga, LPG subsidi 3 kilogram disebut sulit diperoleh di pangkalan resmi, namun mudah ditemukan di tingkat pengecer dengan harga mencapai Rp35 ribu per tabung atau di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Selain itu, harga semen di sejumlah toko bangunan dilaporkan telah menembus sekitar Rp110 ribu per sak.
“Bagaimana sikap Pemerintah dan upaya Pemerintah melakukan tindakan harga gas subsidi di seputaran kota dijual di atas HET. di Pangkalan sulit dapat, tapi di pengecer banyak. Kalau bisa jangan nunggu laporan masyarakat, tapi bertindak terus Bapak-bapak Pemerintahan. Satu lagi harga semen sampai 110 ribu, ini kasih tau ke masyarakat, ada apa?
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perdagangan Aceh Tengah, Abrar Gunawan dikonfirmasi RRI mengatakan pemerintah daerah telah menerima berbagai masukan dari masyarakat dan akan meningkatkan pengawasan terhadap distribusi LPG subsidi maupun ketersediaan semen di pasaran.
Menurut Abrar, pihaknya menduga terdapat praktik yang menyebabkan LPG subsidi dijual di atas ketentuan harga. Namun, pemerintah memerlukan informasi yang jelas mengenai agen maupun pangkalan yang diduga melakukan pelanggaran agar dapat segera ditindak.
"Silakan sampaikan kepada kami agen atau pangkalan mana yang menjual di atas HET. Kami akan mengakomodasi laporan masyarakat dan memberikan teguran apabila ditemukan pelanggaran," ujar Abrar.
Sementara itu, terkait kenaikan harga semen, Abrar menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh tingginya permintaan di Aceh Tengah, terutama untuk kebutuhan proyek pembangunan dan pembangunan rumah masyarakat pascabencana alam. Akibatnya, stok semen di tingkat distributor cepat habis.
Selain tingginya permintaan, distribusi semen juga terkendala karena seluruh pasokan masuk melalui jalur darat. Kondisi sejumlah ruas jalan yang masih mengalami kerusakan pascabencana membuat tonase angkutan harus disesuaikan sehingga pasokan menjadi terbatas.
Faktor lainnya adalah kelangkaan solar bersubsidi yang turut menghambat proses distribusi. Meski demikian, Abrar menegaskan harga dari pihak pabrik tidak mengalami kenaikan.
"Harga dari pabrik tidak naik. Yang terjadi di Aceh Tengah adalah pasokan terbatas sehingga barang menjadi langka dan harga di tingkat pasar ikut meningkat," jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, lanjut Abrar, telah menurunkan tim untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak guna mengatasi persoalan tersebut. Koordinasi dilakukan dengan produsen, termasuk PT Semen Andalas di Lhoknga, serta melibatkan Ombudsman agar distribusi semen kembali lancar dan harga berangsur normal.
Masyarakat berharap langkah pemerintah tidak berhenti pada penanganan setelah menerima laporan, tetapi dilakukan melalui pengawasan berkala terhadap distribusi LPG subsidi dan bahan bangunan. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi, praktik penyimpangan dapat dicegah, dan stabilitas harga di Aceh Tengah tetap terjaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....