Harga Pupuk Non Subsidi Melonjak, Petani Aceh Tengah Menjerit

  • 13 Jun 2026 14:08 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Seorang petani di Aceh Tengah yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keluhan terkait mahalnya harga pupuk dan sulitnya mendapatkan barang di pasaran.

Menurutnya, bukan hanya anggota kelompok tani yang membutuhkan pupuk, tetapi juga petani yang tidak tergabung dalam kelompok.

“Kenapa harga pupuk mahal dan barang nggak ada.Bukan cuma anggota kelompok tani butuh pupuk, tapi petani yang ggak gabung kelompok tani jg perlu pupuk,” ujarnya kepada RRI.

RRI melakukan konfirmasi kepada Kepala Dinas Pertanian Aceh Tengah, Nasrun Liwansza, dia menjelaskan pihaknya sudah mengumpulkan distributor untuk mencari solusi atas masalah tersebut.

Dirinya menyebut, distribusi pupuk dari Lhokseumawe ke Takengon terkendala kondisi jalan pasca bencana.

“Sebelum bencana, angkutan menggunakan truk tronton. Sekarang jalan rusak, sehingga distribusi terbatas. Stok ada di gudang, kami sudah minta untuk disalurkan dengan armada yang tersedia. Ke depan, pengawasan penyaluran akan lebih aktif,” ujarnya.

Sementara itu, Yasnizary, salah satu distributor pupuk di Aceh Tengah, menegaskan bahwa pupuk non-subsidi tidak langka, namun harganya memang naik. Banyak faktor yang menyebabkan kenaikan harga, diantaranya perang Rusia.

“Kalau naiknya harga itu memang inflasi, mungkin karena perang, mungkin plastik naik. Kalau non subsidi mau sampai 1 juta, kalsium dari Rusia, maka terjadilah kenaikan, minyak susah dicari (perang teluk),” ungkapnya.

Kondisi jalan rusak pasca bencana katanya juga turut menyumbang kenaikan pupuk non subsidi, ditambah lagi ongkos per sak saat ini juga naik dari 15 ribu ke 50 ribu per sak.

“Kalau langka sih tidak, seperti Urea dan Phonska. Tapi karena harga tinggi, petani yang tidak masuk kelompok mencari pupuk subsidi. Padahal penyaluran hanya bisa melalui kelompok tani sesuai RDKK,” jelasnya.

Harga pupuk subsidi saat ini diakui Yasnizary, salah satu distributor pupuk di Aceh Tengah sekitar Rp150.000 per sak, jauh lebih murah dibanding pupuk non-subsidi yang mencapai di atas Rp550.000 per sak.

“Kondisi ini membuat banyak petani kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pertanian mereka,” katanya lagi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....