Tidak Selalu Berdosa, Ini Penjelasan Soal Orang Mampu tapi Memilih Tidak Menikah

  • 25 Apr 2026 12:21 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon – Seseorang yang mampu menikah namun memilih untuk tidak menikah tidak otomatis berdosa dalam Islam. Hal ini disampaikan oleh Anda Putra dalam program “Da’i Menjawab” yang disiarkan Radio Republik Indonesia melalui Pro 1 RRI Takengon, Kamis (23/4/2026) malam. Menurut penyuluh sekaligus Kepala KUA Ketol tersebut, hukum menikah bersifat fleksibel dan bergantung pada kondisi masing-masing individu.

“Pada dasarnya menikah itu sunnah atau mubah. Namun bisa berubah menjadi wajib jika seseorang dikhawatirkan terjerumus pada hal yang dilarang, atau bahkan bisa menjadi tidak dianjurkan dalam kondisi tertentu,” jelasnya.

Pernyataan ini menjawab keresahan masyarakat, khususnya generasi muda, yang kerap mendapat tekanan sosial untuk segera menikah meski belum siap secara mental. Dalam dialog yang dipandu host Nur Hasanah, terungkap bahwa banyak faktor memengaruhi keputusan seseorang untuk menunda atau tidak menikah, mulai dari trauma masa lalu, pengalaman keluarga, hingga kondisi psikologis.

Salah satu pendengar bahkan mengaku memilih untuk tetap sendiri setelah mengalami kegagalan rumah tangga. Menanggapi hal tersebut, Anda Putra menekankan pentingnya pemulihan mental sebelum mengambil keputusan besar. Ia menyarankan agar individu mencari tempat curhat yang tepat, seperti konselor atau pihak yang memahami persoalan pernikahan.

“Jangan karena tekanan keluarga lalu memaksakan diri. Itu justru bisa menimbulkan masalah baru,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti tingginya angka perceraian yang menjadi salah satu penyebab munculnya ketakutan untuk menikah. Faktor ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga pengaruh negatif seperti judi online disebut sebagai pemicu utama yang kompleks dan saling berkaitan.

Tidak hanya itu, persoalan adat seperti mahalnya mahar juga dinilai menjadi hambatan tersendiri. Ia mengingatkan bahwa pernikahan seharusnya tidak dipersulit oleh tuntutan sosial.

“Yang penting adalah memahami tujuan pernikahan, bukan sekadar mengikuti gengsi atau tradisi,” tambahnya.

Di akhir dialog, Anda Putra berpesan agar generasi muda tidak ragu melangkah jika sudah siap secara lahir dan batin. Namun, jika masih ada keraguan atau trauma, sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu dengan bantuan yang tepat.

Program “Da’i Menjawab” ini kembali menjadi ruang edukasi dan refleksi bagi masyarakat, khususnya dalam memahami persoalan kehidupan sehari-hari dari perspektif Islam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....