Sambut Ramadhan dengan Perubahan Nyata dan Berkelanjutan

  • 14 Feb 2026 07:21 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Ceramah Subuh yang disiarkan langsung dari Masjid Agung Ruhama pada Sabtu subuh, 14 Februari 2026, menghadirkan tausiah penuh makna dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari. Dalam suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan, penceramah subuh, M. Ramli, SH, mengingatkan pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan diri yang berkelanjutan, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Dalam tausiah tersebut, penceramah mengutip sebuah hadis Rasulullah SAW yang mengingatkan bahwa ada orang-orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga. Pesan ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa esensi Ramadhan bukan hanya menahan makan dan minum, melainkan juga menjaga lisan, hati, serta perilaku agar selaras dengan nilai-nilai ketakwaan.

“Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri selama sebulan, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai Ramadhan itu tetap hidup setelah bulan suci berlalu,” ujar penceramah di hadapan jamaah.

Dalam ceramahnya, penceramah menawarkan tujuh program pembenahan diri selama Ramadhan agar dampaknya terasa hingga pasca Ramadhan.

Pertama, hidup lebih disiplin : Ramadhan melatih umat Islam untuk taat waktu—mulai dari sahur, berbuka, hingga shalat berjamaah. Kebiasaan ini diharapkan terus terjaga setelah Ramadhan, sehingga kedisiplinan menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, hidup lebih terdidik : Bulan Ramadhan menjadi momen memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengikuti majelis ilmu, dan meningkatkan pemahaman agama. Penceramah menekankan agar semangat belajar ini tidak berhenti setelah Ramadhan usai.

Ketiga, lebih dekat kepada Allah SWT : Melalui ibadah puasa, shalat tarawih, qiyamul lail, dan doa-doa yang dipanjatkan, umat Islam diajak membangun hubungan spiritual yang lebih kuat dengan Sang Pencipta. Kedekatan ini diharapkan menjadi pondasi kehidupan setelah Ramadhan.

Keempat, mempererat hubungan dengan sesama manusia : Ramadhan identik dengan kepedulian sosial, berbagi kepada yang membutuhkan, serta mempererat silaturahmi. Nilai empati dan kebersamaan ini diharapkan terus tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat.

Kelima, ekonomi lebih membaik : Penceramah juga menyoroti pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak selama Ramadhan. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat ekonomi keluarga melalui pola hidup sederhana, menabung, serta memperbanyak sedekah yang membawa keberkahan.

Keenam, tubuh semakin sehat : Puasa, jika dijalankan dengan pola makan yang seimbang dan tidak berlebihan saat berbuka, dapat memberikan manfaat kesehatan. Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk mengatur pola hidup yang lebih sehat.

Ketujuh, membangun komitmen perubahan jangka panjang : Penceramah menutup dengan ajakan agar setiap jamaah menetapkan target pribadi selama Ramadhan, sehingga ada perubahan nyata yang dirasakan setelahnya—baik dalam ibadah, akhlak, maupun kualitas hidup secara keseluruhan.

Ceramah subuh ini mendapat respons antusias dari jamaah yang memadati masjid sejak sebelum azan Subuh berkumandang. Suasana hening dan penuh perenungan menyelimuti akhir tausiah, ketika penceramah mengajak seluruh hadirin mempersiapkan diri secara lahir dan batin menyambut bulan suci.

Dengan pesan-pesan reflektif tersebut, diharapkan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi titik balik perubahan menuju pribadi yang lebih baik, keluarga yang lebih harmonis, serta masyarakat yang semakin religius dan peduli.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....