Atur Waktu Makan Bisa Bantu Jaga Fungsi Otak

  • 04 Agt 2026 14:14 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : RRI.CO.ID, Takengon : Selama ini banyak orang memahami bahwa kualitas makanan berpengaruh besar terhadap kesehatan tubuh. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa waktu makan juga dapat memengaruhi kesehatan otak, terutama seiring bertambahnya usia.

Penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Society for Nutrition menemukan jika membatasi waktu makan dalam rentang tertentu berpotensi membantu menjaga fungsi kognitif. Meski demikian, temuan ini masih bersifat awal dan memerlukan penelitian lanjutan.

Menyadur dari Prevention, Selasa (4/8/2026), dalam studi tersebut, peneliti melibatkan 47 perempuan pascamenopause yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Peserta dibagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama mengonsumsi seluruh makanan dalam jangka waktu 12 jam setiap hari sebagai pola makan biasa. Sementara kelompok kedua hanya diperbolehkan makan dalam rentang sekitar delapan hingga sembilan jam, umumnya antara pukul 10.00 hingga 18.00.

Kedua kelompok sama-sama diminta mengurangi asupan energi harian sebanyak 500 kalori. Selain itu, seluruh peserta menjalani serangkaian tes untuk mengukur kemampuan berpikir, daya ingat, proses belajar, hingga kecepatan bereaksi pada awal dan akhir penelitian yang berlangsung selama enam bulan.

Hasilnya, kedua kelompok mengalami penurunan berat badan rata-rata sekitar 6,8 kilogram atau 15 pon. Namun, kelompok yang menerapkan pola makan terbatas waktu menunjukkan peningkatan yang lebih baik dalam tes pemecahan masalah dan perencanaan spasial, yaitu kemampuan membayangkan langkah serta hasil sebelum mengambil keputusan.

Kelompok tersebut juga melakukan lebih sedikit kesalahan dalam tes memori dan pembelajaran, meskipun hasilnya belum mencapai tingkat signifikansi statistik. Sementara itu, tidak ditemukan perbedaan berarti antara kedua kelompok dalam hal kecepatan reaksi maupun kemampuan melakukan beberapa tugas sekaligus.

Mengapa Waktu Makan Diduga Berpengaruh?

Peneliti belum dapat memastikan penyebab pasti mengapa pola makan dengan jendela waktu sekitar sembilan jam dapat meningkatkan fungsi kognitif. Namun, terdapat beberapa dugaan yang menjadi perhatian.

Salah satunya adalah kemungkinan pola makan tersebut membantu mengurangi peradangan dalam tubuh atau meningkatkan respons tubuh terhadap nutrisi. Selain itu, waktu makan antara pukul 10.00 hingga 18.00 dinilai lebih selaras dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.

Menyadur dari sumber yang sama, Ahli gizi dari Frances Stern Nutrition Center di Tufts Medical Center, Sandra Zhang, menjelaskan bahwa metabolisme, pengaturan gula darah, hingga pola tidur mengikuti ritme harian tubuh. Makan terlalu larut malam diduga dapat mengganggu proses tersebut sehingga berpotensi memengaruhi fungsi otak.

Sementara itu, Direktur Neuropsikologi Tufts Medical Center, Davide Cappon, Ph.D., menilai jeda makan yang lebih panjang pada malam hari kemungkinan memberi manfaat tambahan selain membantu menurunkan berat badan.

"Jeda makan yang lebih lama di malam hari mungkin membantu memperbaiki kesehatan metabolik, seperti pengendalian gula darah, sekaligus menyelaraskan metabolisme dengan jam biologis tubuh. Kombinasi inilah yang diduga membuat otak bekerja lebih efisien," jelasnya.

Penelitian ini masih berskala kecil sehingga belum dapat dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan pasti mengenai manfaat pembatasan waktu makan terhadap kesehatan otak.

Belum Ada Diet yang Terbukti Mencegah Demensia

Hingga kini belum ada pola makan yang terbukti mampu mencegah demensia secara pasti. Namun, menjaga pola hidup sehat tetap menjadi langkah terbaik untuk mempertahankan fungsi otak.

Dokter spesialis saraf dari Providence Saint John's Health Center, Clifford Segil, menyarankan mengurangi konsumsi gula tambahan, memenuhi kebutuhan cairan, serta tetap aktif bergerak.

Selain itu, menganjurkan pola makan bergizi seimbang yang kaya protein, buah, sayuran, biji-bijian utuh, lemak sehat, dan serat. Salah satu pola makan yang paling banyak direkomendasikan adalah Diet Mediterania.

Penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan American Society for Nutrition tahun 2025 juga menunjukkan bahwa orang yang menjalankan Diet MIND memiliki risiko 12 hingga 13 persen lebih rendah mengalami penyakit Alzheimer dibandingkan mereka yang tidak menerapkannya.

Diet MIND merupakan gabungan antara Diet Mediterania dan pola makan DASH. Pola makan ini menekankan konsumsi makanan nabati minim proses, seperti sayuran hijau, buah beri, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, polong-polongan, ikan, unggas, serta minyak zaitun, sambil membatasi lemak jenuh dan gula tambahan.

Perlukah Mengubah Jam Makan?

Meski hasil penelitian cukup menjanjikan, para ahli belum menyarankan semua orang langsung menerapkan pola makan dengan pembatasan waktu.

Direktur Medis Obesity Medicine Enterprise di Vanderbilt Health, Dr. Gitanjali Srivastava, mengatakan menyelesaikan makan malam tiga hingga empat jam sebelum tidur merupakan kebiasaan yang sudah terbukti bermanfaat.

"Kebiasaan tersebut baik untuk menjaga kadar gula darah, mengurangi refluks asam lambung, dan meningkatkan kualitas tidur. Jika di masa depan ternyata juga terbukti melindungi kesehatan otak, tentu itu menjadi manfaat tambahan," ujar Srivastava.

Menurutnya, yang lebih penting bukan sekadar menjalankan puasa dengan waktu tertentu, melainkan menyesuaikan waktu makan dengan jam aktif tubuh serta mempertahankan pola makan yang konsisten demi menjaga energi, mengendalikan nafsu makan, dan meningkatkan kualitas gizi secara keseluruhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....