Pola Hidup Sehat Bisa Turunkan Risiko Demensia, Ini Kebiasaan yang Dianjurkan

  • 22 Jul 2026 18:56 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Demensia menjadi salah satu penyakit yang paling dikhawatirkan seiring bertambahnya usia. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan penurunan daya ingat, tetapi juga memengaruhi kemampuan berpikir, berkomunikasi, hingga menjalani aktivitas sehari-hari.

Melansir dari World Health Organization (WHO), terdapat hampir 10 juta kasus baru demensia setiap tahun di seluruh dunia. Meski usia dan faktor genetik tetap berperan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak faktor risiko demensia sebenarnya dapat dikurangi melalui pola hidup sehat.

WHO dalam pembaruan panduannya pada 2026 menyebutkan sekitar 45 persen kasus demensia berpotensi dicegah dengan mengendalikan faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Temuan tersebut juga sejalan dengan laporan The Lancet Commission yang mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang bisa dikendalikan sejak usia produktif.

Jaga kesehatan jantung

Kesehatan jantung dan otak saling berkaitan. Kondisi seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, obesitas, hingga kurang aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi otak. Rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga berat badan ideal, serta mematuhi pengobatan apabila memiliki penyakit kronis.

Berhenti merokok dan batasi alkohol

Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan juga menjadi faktor yang meningkatkan risiko demensia. Selain berdampak pada kesehatan pembuluh darah, kedua kebiasaan tersebut turut meningkatkan risiko penyakit jantung yang berkaitan erat dengan kesehatan otak.

Mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan tersebut tidak hanya membantu menjaga fungsi otak, tetapi juga menurunkan risiko berbagai penyakit kronis lainnya.

Tetap aktif secara sosial

Menjaga hubungan sosial juga berperan penting dalam mempertahankan fungsi kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang tetap aktif berinteraksi dengan keluarga, teman, maupun komunitas cenderung memiliki risiko demensia yang lebih rendah.

WHO juga merekomendasikan aktivitas yang merangsang otak, seperti belajar hal baru, membaca, berdiskusi, hingga mengikuti kegiatan sosial secara rutin.

Jangan abaikan gangguan pendengaran dan penglihatan

Gangguan pendengaran maupun penglihatan yang tidak ditangani dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif. Karena itu, pemeriksaan kesehatan mata dan telinga secara berkala sangat dianjurkan, terutama bagi lansia.

Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan penggunaan alat bantu dengar pada penderita gangguan pendengaran dapat membantu memperlambat penurunan fungsi kognitif pada kelompok berisiko tinggi.

Tidur cukup dan konsumsi makanan sehat

Meski penelitian masih terus berkembang, kualitas tidur memiliki hubungan erat dengan kesehatan otak. Tidur yang cukup membantu proses pemulihan otak dan pembersihan zat-zat yang berpotensi memicu penyakit neurodegeneratif.

Selain itu, pola makan seperti diet Mediterania maupun MIND Diet dinilai bermanfaat untuk menjaga kesehatan otak. Pola makan ini menekankan konsumsi sayuran hijau, buah beri, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, minyak zaitun, serta membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan makanan ultra-proses.

Meski tidak semua kasus demensia dapat dicegah, menerapkan gaya hidup sehat sejak usia muda dapat membantu menjaga fungsi otak tetap optimal hingga lanjut usia. Pencegahan dini menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko sekaligus meningkatkan kualitas hidup di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....