Anak Petani Cabai Tembus GrandFinal Duta Sastra Indonesia
- 06 Sep 2025 15:36 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon: Anak petani cabai asal kecamatan Ketol, Aceh Tengah berhasil menembus Grand Final Duta Sastra Indonesia 2025. Ajang ini diselenggarakan oleh Duta Sastra Indonesia, dengan misi menjaring dan membina talenta-talenta muda berbakat dalam bidang literasi.
Rosa Nur Ramadani, siswi kelas XI-3 SMA Negeri 9 Takengon, berhasil mencatatkan prestasi membanggakan dengan menembus Grand Final Duta Sastra Indonesia 2025, mengalahkan ratusan peserta dari seluruh penjuru Tanah Air.
Baca: KCCI Gelar Lomba Penerjemahan Sastra Korea-Indonesia 2025
Di tengah keterbatasan ekonomi, Rosa menunjukkan semangat, tekad, dan cinta terhadap dunia sastra dan mampu membawanya menembus batas. Bukan Hanya finalis, tapi juga penulis muda berbakat.
Dengan segala pencapaian ini, Rosa mengaku tetap rendah hati dan bertekad untuk terus menulis dan berkarya. Karena menurutnya sastra adalah rumah baginya.
Baca juga: Komunitas Setara Rawat Sastra Lewat Bicara
“Saya hanya ingin menulis dan berbagi cerita. Sastra adalah rumah saya. Doakan saya bisa membawa nama baik Aceh dan menginspirasi lebih banyak anak muda untuk mencintai literasi,” ungkap Rosa.
Tak hanya aktif sebagai pelajar, Rosa juga dikenal sebagai penulis muda berbakat yang menggunakan nama pena Arumi Nabula. Ia telah menulis berbagai karya sastra, termasuk cerpen, puisi, dan novel.
Baca: Kemenbud Sukses Gelar Pertunjukan Sastra '80 Tahun Indonesia'
Dua karya cerpennya telah dibukukan dalam antologi cerpen bersama penulis nasional lainnya, dan saat ini Rosa sedang menyelesaikan naskah novel terbarunya yang berjudul "Semesta dan Lukanya". Sebuah karya yang mengangkat tema tentang luka, harapan, dan perjalanan menemukan jati diri.
"Mohon doa dan dukungan masyarakat Aceh Tengah dan seluruh Indonesia agar dapat meraih gelar Winner Duta Sastra Indonesia 2025, dan terus menebar cahaya melalui kata-kata," katanya berharap.
Baca juga: Mengapa Anak Muda Perlu Baca Karya Sastra Indonesia?
Kecintaan Rosa terhadap sastra dimulai sejak duduk di bangku SMP, dan semakin berkembang melalui bimbingan para guru dan lingkungan sekolah yang mendukung. Ia juga aktif mengikuti berbagai lomba menulis dan kegiatan literasi di daerah maupun tingkat nasional.
Dari Lembah Ketol ke Panggung Sastra Nasional
Program Duta Sastra Indonesia Batch 1 ini merupakan ajang bergengsi yang digagas oleh organisasi Duta Sastra Indonesia, dengan misi menjaring dan membina talenta-talenta muda berbakat dalam bidang literasi. Program ini dibuka untuk pelajar, mahasiswa, dan guru, dengan proses seleksi ketat sejak Juni 2025.
Baca: Perayaan 90 Tahun Taufik Ismail, Bapak Sastra Indonesia
Rosa lolos melalui tahapan seleksi berkas, tes tulis, wawancara, hingga pelatihan secara daring bersama para mentor sastra nasional. Kini, Rosa menjadi satu-satunya wakil dari Provinsi Aceh yang lolos ke babak Grand Final, bergabung bersama 21 finalis lainnya dari berbagai provinsi se-Indonesia.
Sebagai finalis, Rosa akan menjalankan proyek sosial berupa sosialisasi sastra ke sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Selanjutnya mendokumentasikan seluruh prosesnya sebagai bagian dari misi kebudayaan dan literasi.
Baca juga: Hari Puisi Indonesia: Semangat Literasi Bangkit
Rosa adalah anak kedua dari pasangan Suroso dan Halimah, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dan petani cabai. Rosa berasal dari keluarga sederhana di desa Blang Mancung, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Kepala SMA Negeri 9 Takengon, M. Yusup, menyampaikan rasa bangga atas capaian luar biasa ini. Rosa membuktikan bahwa latar belakang anak petani cabai bukan halangan agar meraih prestasi.
Baca selengkapnya: Sastra Indonesia Mendunia, Kemenbud Bentuk Laboratorium Promotor Sastra
“Kami sangat terharu dan bangga. Rosa adalah bukti nyata bahwa latar belakang bukan penghalang untuk berprestasi. Kami dari sekolah siap mendukung penuh, dan semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi seluruh siswa di SMA Negeri 9 Takengon," katanya.
Wali kelas Rosa, Amelia Oktami, mengaku jika Rosa adalah siswa yang penuh semangat, rendah hati, dan pekerja keras. Karyanya sangat menyentuh dan punya pesan yang dalam. Dia adalah aset literasi dari Aceh Tengah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....