Komunitas Setara Rawat Sastra Lewat Bicara
- 01 Sep 2025 17:09 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Komunitas Suara Literasi Membara (Setara) kembali menggelar kegiatan sastra untuk kedua kalinya. Acara yang mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI tersebut berlangsung di Aula Khatulistiwa Balai Bahasa Kalimantan Barat pada Minggu (31/8/2025), dan resmi dibuka oleh Dr. Uniawati, Kepala Balai Bahasa Kalimantan Barat.
Program Bicara (Bincang dan Baca Sastra) merupakan agenda rutin komunitas ini. “Kami punya acara bulanan. Yang di Perpustakaan Kota Pontianak juga baru berlangsung,” ujar Ketua Komunitas Afiyah Sephi Marshanda, mengenang kegiatan sebelumnya. Dalam acara lalu, buku karya Sasti Gotama Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu menjadi bahan diskusi. Setara sendiri tercatat sebagai salah satu dari 30 komunitas penerima bantuan Penguatan Komunitas Sastra dari Kemendikbud RI.
Kali ini, diskusi menghadirkan Pradono sebagai pemantik. Buku M. Aan Mansyur menjadi pusat perbincangan, tepatnya kumpulan puisi Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau. Sastrawan senior asal Kota Singkawang itu mengulas lima puisi pilihan dalam buku tersebut.
Pradono mengajak peserta menelisik karya pemenang Khatulistiwa Award 2021 ini, mulai dari sampul, tipografi, hingga lapisan makna yang bertebaran. “Mengapa Luka …, bisa saya analogikan dengan piring retak. Meski sudah disatukan, luka-lukanya tetap ada,” ujarnya, mengungkap tafsir personal terhadap judul buku.
Diskusi pun kian hangat ketika Erni Setia Putri, salah satu peserta, melontarkan dua pertanyaan kritis. “Kenapa beberapa puisinya mirip Sutardji? Lalu, kenapa ada katanya yang tidak memakai huruf besar? Karena bisa saja hal tersebut menimbulkan salah tafsir bagi deklamator.”
Pradono menanggapi dengan tegas. Ia menyinggung kebebasan penyair yang juga ia terapkan. “Dalam kumpulan buku puisinya, Singkawang, ia tidak menggunakan huruf besar. Pertahankan sampai titik darah terakhir. Ini puisi! Silakan bahas secara akademis. Licentia poetica bukan dimaksudkan agar penyair berlaku seenaknya atas aturan menulis,” tambahnya.
Buku Aan dan 99 buku lainnya memang masuk dalam daftar program kementerian ini. Sebagaimana dijelaskan Ahmad Mahendra, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, program Penguatan Komunitas Sastra bertujuan menjembatani karya sastra dengan pembaca. Sebab, hingga kini, diseminasi buku sastra masih belum optimal. “Komunitas sastra berperan sebagai ujung tombak yang akan menyebarluaskan karya sastra, dengan cara mendiskusikannya dan mengalihwahanakannya,” tegasnya.
Alihwahana pun turut mewarnai acara. Setara menampilkan pembacaan puisi oleh Erni dari Sanggar Setia. Ia membacakan karya berjudul Pertanyaan-Pertanyaan dengan gaya khas yang mengundang tepuk tangan peserta.
Tak kurang dari 50 peserta hadir, mewakili berbagai komunitas sastra, seperti Sanggar Puisi Setia, Forum Lingkar Pena Kalbar, Forum Penulis Barat Borneo, Baca Kalbar, dan Kopermekha Bekate. Bahkan, komunitas Riau Sastra pun turut mengirimkan “utusan” untuk menyemarakkan forum diskusi ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....