Kajian Parenting: Waktu Menegur Anak Perlu Diperhatikan
- 23 Feb 2026 14:37 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Memarahi anak kerap menjadi respons spontan ketika emosi memuncak. Namun, sejumlah penelitian psikologi perkembangan menegaskan bahwa waktu dan kondisi saat orangtua menegur anak sangat menentukan dampaknya. Teguran yang disampaikan pada momen yang tidak tepat justru berisiko menimbulkan trauma, kecemasan, hingga gangguan hubungan emosional jangka panjang. Prinsip ini juga sejalan dengan pendekatan dalam buku Growing Kids God's Way karya Gary dan Anne Ezzo, yang menekankan pentingnya disiplin yang terarah, konsisten, dan tidak didorong oleh luapan emosi. Buku tersebut menyoroti bahwa koreksi terhadap anak harus dilakukan dengan kendali diri, bukan sebagai pelampiasan kemarahan orangtua.
Berikut empat waktu yang dinilai tidak ideal untuk memarahi anak, lengkap dengan temuan riset yang mendukungnya.
1. Saat Orangtua Sedang Emosi
Menegur anak ketika orangtua sedang marah atau frustrasi meningkatkan risiko teguran berubah menjadi bentakan atau serangan verbal. Dalam konteks psikologi perkembangan, kemarahan yang tidak terkontrol dapat memicu rasa takut alih-alih pemahaman. Penelitian yang dipublikasikan dalam Child Development menemukan bahwa kemarahan verbal yang berulang berkorelasi dengan meningkatnya gejala depresi dan masalah perilaku pada remaja. Sementara itu, American Psychological Association (APA) menekankan pentingnya regulasi emosi dalam pola asuh. Orangtua yang menenangkan diri sebelum memberi disiplin cenderung lebih efektif membentuk perilaku anak. Dalam Growing Kids God's Way, ditegaskan bahwa disiplin seharusnya dilakukan dengan “calm authority” atau otoritas yang tenang. Koreksi yang diberikan dalam keadaan emosi meledak justru mengaburkan tujuan pembelajaran moral yang ingin ditanamkan.
2. Di Depan Umum atau Banyak Orang
Memarahi anak di depan teman, keluarga besar, atau ruang publik dapat menimbulkan rasa malu dan memperburuk harga diri anak. Rasa dipermalukan di muka umum dapat tertanam kuat dalam ingatan anak. Sebuah studi dalam Journal of Adolescence menunjukkan bahwa pengalaman dipermalukan oleh figur otoritas berhubungan dengan meningkatnya kecemasan sosial dan penurunan kepercayaan diri pada masa remaja. Survei parenting yang dilakukan lembaga riset keluarga di Amerika Serikat juga menemukan bahwa anak-anak yang sering ditegur secara terbuka melaporkan tingkat kedekatan emosional yang lebih rendah dengan orangtua mereka dibandingkan anak yang ditegur secara privat dan tenang. Pendekatan dalam Growing Kids God's Way menganjurkan koreksi dilakukan secara pribadi dan penuh hormat, agar martabat anak tetap terjaga. Prinsip ini selaras dengan temuan psikologi modern yang menyebut bahwa rasa aman emosional adalah fondasi pembentukan karakter.
3. Menjelang Waktu Tidur
Waktu sebelum tidur seharusnya menjadi momen relaksasi bagi anak. Memarahi anak tepat sebelum tidur dapat memicu stres dan mengganggu kualitas istirahatnya. Penelitian yang diterbitkan dalam Sleep Medicine Reviews menyebutkan bahwa kondisi emosional negatif sebelum tidur berkaitan dengan peningkatan hormon stres kortisol, yang dapat menghambat proses tidur nyenyak pada anak. Selain itu, studi dari National Sleep Foundation menemukan bahwa rutinitas malam yang tenang dan konsisten membantu perkembangan emosi anak serta meningkatkan kualitas tidur. Sebaliknya, konflik sebelum tidur meningkatkan risiko gangguan tidur dan mimpi buruk.
4. Saat Anak Sedang Sangat Lelah atau Lapar
Anak yang lapar atau kelelahan cenderung lebih sensitif dan sulit mengontrol emosi. Memarahi dalam kondisi ini sering kali tidak efektif karena anak belum berada dalam keadaan psikologis yang siap menerima nasihat. Riset tentang regulasi emosi anak dalam Developmental Psychology menunjukkan bahwa kondisi fisik seperti kurang tidur dan rasa lapar berpengaruh signifikan terhadap kemampuan anak memahami konsekuensi dan mengelola perilaku. Survei kesehatan keluarga yang dilakukan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga mencatat bahwa pola tidur yang buruk dan asupan makan tidak teratur berkaitan dengan meningkatnya perilaku impulsif pada anak usia sekolah.
Disiplin Bukan Soal Marah, tetapi Mendidik
Berbagai jurnal psikologi dan pendekatan pengasuhan klasik maupun religius sepakat bahwa disiplin tetap penting dalam membentuk karakter anak. Namun, cara dan waktu penyampaiannya menentukan hasil akhir. Pendekatan authoritative parenting pola asuh hangat tetapi tegas terbukti dalam banyak penelitian berkorelasi dengan perkembangan emosi yang lebih stabil. Konsep ini sejalan dengan prinsip yang diuraikan dalam Growing Kids God's Way, yang menekankan keseimbangan antara kasih dan ketegasan. Memilih momen yang tepat untuk menegur bukan berarti mengabaikan kesalahan anak. Justru sebaliknya, itu memastikan pesan yang disampaikan benar-benar dipahami tanpa meninggalkan luka psikologis. Dalam pengasuhan, disiplin terbaik bukanlah yang paling keras, melainkan yang paling bijak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....