Screen Time Anak Meledak, Peran Orang Tua Dipertanyakan
- 10 Feb 2026 10:51 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Di tengah meningkatnya penggunaan gawai oleh anak-anak, orang tua kerap dihadapkan pada dilema soal keamanan, privasi, dan durasi waktu layar. Untuk membantu menjawab persoalan tersebut, para pakar dari bidang kesehatan masyarakat, pendidikan, psikologi, dan pengasuhan anak menyampaikan panduan berbasis riset terkait penggunaan media digital yang sehat untuk anak dari berbagai usia.
Sejumlah ahli tersebut terlibat dalam diskusi lintas disiplin yang diselenggarakan oleh Children and Screens: Institute of Digital Media and Child Development dikutip dari childrenandscreens.org. Diskusi ini membahas peran kontrol orang tua, aplikasi pemantauan, serta rencana media keluarga dalam membentuk kebiasaan digital yang aman dan bertanggung jawab.
Para pakar sepakat bahwa pendekatan orang tua terhadap penggunaan gawai anak tidak bisa diseragamkan. Faktor usia dan tingkat kedewasaan anak menjadi penentu utama apakah strategi yang diterapkan lebih menekankan kepercayaan, pengawasan ketat, atau kombinasi keduanya.
Penulis dan konsultan parenting Janell Burley Hofmann dilansir dari childrenandscreens.org menilai pengasuhan digital membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan fleksibilitas. Seiring bertambahnya usia, anak akan mencari kemandirian, termasuk di ruang digital. Dalam konteks ini, peran orang tua dinilai bukan semata mengontrol, melainkan mendampingi agar anak memperoleh pengalaman daring yang sehat dan sesuai tahap perkembangan.
Para ahli juga menekankan pentingnya aturan yang jelas terkait durasi dan frekuensi penggunaan layar. Aturan tersebut dinilai lebih efektif jika disertai keteladanan dari orang tua. Anak-anak cenderung meniru kebiasaan digital orang dewasa di sekitarnya.
Selain pembatasan, para pakar menyarankan orang tua mendorong aktivitas bermakna di luar layar. Aktivitas sosial, bermain, kegiatan luar ruang, pekerjaan rumah tangga, hingga literasi dinilai dapat mengurangi waktu layar secara alami tanpa harus selalu melarang.
Soal pelacakan lokasi anak melalui teknologi GPS, para ahli menilai praktik ini perlu dilakukan secara transparan. Pelacakan yang dilakukan tanpa sepengetahuan anak berisiko merusak kepercayaan. Penggunaan fitur ini dinilai lebih tepat untuk situasi tertentu dan harus disertai komunikasi terbuka.
Penggunaan waktu layar sebagai hadiah atau hukuman juga menjadi sorotan. Para pakar mengingatkan bahwa strategi tersebut justru dapat meningkatkan ketergantungan anak pada gawai. Screen time dinilai sebaiknya diperlakukan sebagai bagian dari rutinitas yang konsisten, bukan alat tawar-menawar perilaku.
Dalam menyusun rencana media keluarga, orang tua dianjurkan terlebih dahulu merumuskan nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Aturan seperti larangan gawai di kamar tidur atau pembatasan layar sebelum waktu tidur menjadi contoh langkah awal yang dinilai efektif.
Para ahli juga mengingatkan bahwa aplikasi kontrol orang tua bukan solusi tunggal. Aplikasi tersebut paling bermanfaat jika mendorong dialog antara orang tua dan anak, bukan menggantikan komunikasi. Pengawasan berlebihan justru berisiko menghambat kemampuan anak mengatur diri sendiri.
Terkait usia ideal anak memiliki perangkat pribadi atau mengakses media sosial, para pakar menilai tidak ada patokan tunggal. Meski banyak platform menetapkan usia minimum 13 tahun, faktor kesiapan emosional dan pendampingan orang tua tetap menjadi kunci utama.
Kesimpulannya, pengelolaan media digital dalam keluarga membutuhkan pendekatan bertahap, dialog terbuka, dan penyesuaian seiring perkembangan anak. Dengan perencanaan yang matang dan komunikasi yang konsisten, teknologi digital dapat dimanfaatkan secara positif tanpa mengorbankan kesehatan dan perkembangan anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....