Mata Rantai Masalah di Putri Cempo: Gas Metana, Asap, dan Dilema Pemulung
- 07 Sep 2026 11:00 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Kebakaran yang kembali melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo bukan lagi sekadar musibah tahunan akibat terik kemarau. Peristiwa ini adalah alarm keras atas belum tuntasnya pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Kombinasi tumpukan sampah kering dan akumulasi gas metana di bawahnya menjadikan TPA ini ibarat "bom waktu" yang siap meledak dan menyemburkan asap beracun kapan saja.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara tegas mengingatkan bahwa penanganan Putri Cempo tidak bisa berhenti pada upaya pemadaman. Pemadaman kebakaran TPA memerlukan biaya yang sangat besar dan waktu berminggu-minggu, belum lagi dampak polusi udara yang mengancam kesehatan masyarakat.
Solusi utamanya terletak pada pengendalian serta pemanfaatan gas metana, mulai dari penangkapan gas untuk sumber energi, biometana pengganti LPG, hingga skema carbon credit.
Namun, potensi pemanfaatan energi tersebut mustahil terwujud tanpa kuncinya: pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Di sinilah letak dilema besarnya.
Upaya Pemkot Solo menggalakkan gerakan pilah sampah untuk mengurangi beban 400–450 ton sampah harian ke TPA ternyata membentur realitas sosial. Kebijakan ini menuai protes keras dari ratusan pemulung di TPA Putri Cempo yang menggantungkan hidup dari rongsokan. Pemilahan di hulu otomatis memangkas pendapatan mereka secara drastis.
Kondisi ini memang ibarat buah simalakama. Di satu sisi, pemerintah dituntut tegas menerapkan amanat UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah demi mencegah bencana lingkungan yang lebih luas. Di sisi lain, ada urusan perut rakyat kecil yang terdampak langsung oleh perubahan sistem tersebut.
Pemerintah Daerah dituntut tidak hanya tegas, tetapi juga bijak. Transisi pengelolaan sampah harus disertai solusi inklusif bagi para pemulung, misalnya dengan mengintegrasikan mereka ke dalam rantai pengolahan sampah formal, fasilitasi bank sampah, atau pemberdayaan unit pengolahan daur ulang.
Tanpa pendekatan sosial yang matang, penataan TPA Putri Cempo akan terus terhambat, dan ancaman kebakaran akan tetap menjadi lingkaran setan yang berulang setiap kemarau datang. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....