Menagih Empati di Balik Asap Rokok, Catatan untuk Kampung Bebas Asap Rokok Solo

  • 05 Agt 2026 05:52 WIB
  •  Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Balai Kota Surakarta menyisakan pesan mendalam. Lewat ajang Kampung Keren Tanpa Rokok Award 2026, Pemkot Surakarta bersama Yayasan KAKAK dan Pemuda Penggerak memberikan panggung bagi kampung-kampung yang gigih menjaga udaranya tetap bersih.
Sebuah langkah maju yang sangat patut kita apresiasi. Namun, di balik seremonial penghargaan tersebut, ada realita pahit yang masih menampar wajah kita bersama.
Temuan di lapangan bukan sekadar angka statistik biasa. Pendampingan Yayasan KAKAK mengungkap fakta mengejutkan: sebagian besar anak stunting lahir dari keluarga yang merokok di dalam rumah.
Ketika kita bicara soal stunting, kita tidak hanya bicara tentang gizi di atas piring, tetapi juga tentang hak anak untuk menghirup udara bersih di rumahnya sendiri.
Fakta ini menegaskan bahwa kebiasaan merokok di dalam rumah bukan lagi sekadar urusan "pilihan pribadi," melainkan bentuk pengabaian terhadap hak tumbuh kembang anak.
Harus diakui, tantangan terbesar gerakan ini ada pada kesadaran dasar. Tak sedikit orang tua yang masih egois, membakar rokok tepat di samping anak balitanya.
Di ruang publik pun setali tiga uang.
Papan larangan merokok sering kali hanya berakhir menjadi pajangan tanpa taring.
Ketidakpekaan sebagian perokok yang mengabaikan aturan membuktikan bahwa regulasi hukum, seperti Perda KTR No. 9 Tahun 2019, butuh pengawasan yang jauh lebih tegas.
Bukan Cuma Tugas Dinas Kesehatan
Mewujudkan lingkungan yang ramah anak jelas tidak bisa dibebankan hanya kepada Dinas Kesehatan. Seperti yang ditegaskan Sekda Kota Surakarta, butuh sinergi lintas sektor:

Pemerintah Kota & OPD: Menyiapkan regulasi ketat, pengawasan kawasan sekolah, dan penganggaran di tingkat kelurahan. Perangkat Wilayah (Kecamatan & Kelurahan): Menjadi benteng terdepan penegakan aturan.
Masyarakat & Kader Kesehatan: Menjaga iklim saling mengingatkan antartetangga.
Generasi Emas 2045 tidak akan pernah terwujud jika anak-anak hari ini masih dijebak dalam residu asap rokok sejak dini.
Kampung Keren Tanpa Rokok Award bukan sekadar tentang piala atau piagam, melainkan pemantik komitmen bersama.
Sudah saatnya kita menyadari: menyayangi anak berarti berani mematikan rokok di dalam rumah dan ruang publik. MI
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....